Berikutada 8 alat keselamatan yang harus disiapkan untuk melindungi beberapa pekerja kapal laut: 1.Life Boat Tentu saja di tiap kapal laut perlu disediakan life boat atau sekoci dalam jumlah yang cukup. Sekoci dapat digunakan jika kondisi dalam kapal memburuk misalnya saat dimana kapal akan tenggelam.
Shipping safety is very important and occupies a central position in all aspects of the shipping world. Aspects inherent in shipping safety include the characteristics of attitudes, values, and activities regarding the importance of fulfilling safety and security requirements concerning transportation in waters Ship and shipping safety indicators are two sides that are not separated, the ship must have safety equipment including lifeboats, life jackets, fire extinguishers, documents and certificates, the ship's screen-worthy condition. The health of the crew, all must be properly prepared and ascertained the existence and circumstances so that the cruise will be safe and secure. Kata kuncil safety, shipping Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019 53 ANALISA INDIKATOR KESELAMATAN PELAYARAN PADA KAPAL NIAGA Andi Hendrawan Akademi Maritim Nusantara Eamil andihendrawan Abstract Shipping safety is very important and occupies a central position in all aspects of the shipping world. Aspects inherent in shipping safety include the characteristics of attitudes, values, and activities regarding the importance of fulfilling safety and security requirements concerning transportation in waters Ship and shipping safety indicators are two sides that are not separated, the ship must have safety equipment including lifeboats, life jackets, fire extinguishers, documents and certificates, the ship's screen-worthy condition. The health of the crew, all must be properly prepared and ascertained the existence and circumstances so that the cruise will be safe and secure. Kata kuncil safety, shipping PENDAHULUAN Semua pengguna sarana transportasi laut di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya, senantiasa sangat mengutamakan persoalan keselamatan dan keamanan, yang selanjutnya baru diikuti dengan aspek biaya yang terjangkau, kecepatan dan ketepatan waktu, serta aspek kenyamanan. Terjadinya kecelakaan kapal seperti tenggelam, terbakar, dll adalah permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan keselamatan dan keamanan transportasi laut. Untuk pelaksanaan peningkatan keselamatan pelayaran ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah mengeluarkan kebijakan dalam pencegahan kecelakaan kapal seperti membuat maklumat pelayaran tentang peningkatan pengawasan keselamatan pelayaran bagi kapal penumpang, membuat maklumat tentang kondisi cuaca perairan di Indonesia seperti telegram perihal kesiapan cuaca buruk di laut. Ditjen Hubla, 2017. Keselamatan pelayaran merupakan hal yang sangat penting dan menduduki posisi sentral dalam segala aspek di dunia pelayaran. Aspek yang melekat pada keselamatan pelayaran meliputi karakteristik sikap, nilai, dan aktivitas mengenai pentingnya terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan yang menyangkut angkutan di perairan dan kepelabuhanan. Pengabaian atas keselamatan pelayaran cenderung meningkatkan biaya ekonomi dan lingkungan seperti penurunan produksi, timbul biaya medis, terjadi polusi dan penggunaan energi yang tidak efisien. Rendahnya keselamatan pelayaran ini dapat di aklnbatkan oleh lemahnya manajemen Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019 54 sumber daya manusia pendidikan, kompetensi, kondisi kerja, jam kerja dan manajemen proses . . Keselamatan dan keamanan maritim di sini, adalah kebijakan utama yang harus mendapatkan prioritas pada pelayaran dalam menunjang kelancaran transportasi laut Indonesia sebagai negara kepulauan. Indonesia memiliki kedaulatan atas keseluruhan wilayah laut lndonesia, sehingga laut memiliki peran cukup berarti baik bagi sarana pemersatu bangsa dan wilayah Republik lndonesia, mau pun laut sebagai asset bangsa yang tidak ternilai serta masa depan Indonesia. Penguasaan atas laut tersebut, memiliki konsekuensi bahwa Pemerintah berkewajiban atas penyelenggaraan pemerintahan di bidang penegakan hukum di laut, baik terhadap ancaman pelanggaran, pemanfaatan perairan, serta menjaga dan menciptakan keselamatan pelayaran secara optimalKadarisman & Jakarta, 2017. Penringya keselamatan kerja di sector prlayaran menunjukan bahw abahaya di sector ini sangat banyak dan penuh dengan resiko. Artikel ini akan mengkaji indikator keselamatan kerja disektor kapal perikanan, yang pada umunya masih kurang mendapat perhatian. KESEALAMATAN PELAYARAN Keselamatan pelayaran Peraturan Safety Of Life At Sea SOLAS adalah peraturan yang mengatur keselamatan maritim paling utama dengan tujuan untuk meningkatkan jaminan keselamatan hidup di laut yang dimulai sejak 1914, mengingat, saat itu, di mana-mana banyak terjadi kecelakaan kapal yang menelan banyak korban jiwa. Pada tahap permulaan, dimulai dengan fokus pada peraturan kelengkapan navigasi, kekedapan dinding penyekat kapal serta peralatan berkomunikasi, kemudian berkembang pada konstruksi dan peralatan lainnya. Modernisasi peraturan SOLAS sejak 1960, adalah menggantikan Konvensi 1918 dengan SOLAS 1960. Sejak saat itu, peraturan mengenai desain untuk meningkatkan faktor keselamatan kapal mulai dimasukan seperti Desain konstruksi kapal, Permesinan dan instalasi listrik, Pencegah kebakaran, Alat-alat keselamatan, Alat komunikasi dan keselamatan navigasi. Adapun, usaha penyempurnaan peraturan tersebut dengan cara mengeluarkan peraturan tambahan amandement hasil konvensi IMO, yang dilakukan secara berturut-turut pada 1966, 1967, 1971 dan 1973. Namun, usaha untuk memberlakukan peraturan- peraturan tersebut secara internasional kurang berjalan sesuai dengan yang diharapkan, terutama karena hambatan prosedural, yaitu diperlukannya persetujuan 2/3 dari jumlah negara anggota untuk meratifikasi peratruran dimaksud, ternyata sulit dicapai pada waktu yang diharapkan. Selanjutnya, pada rentang 1974, dibuat konvensi baru SOLAS 1974, yakni pada setiap amandemen diberlakukan sesuai target waktu yang sudah ditentukan, kecuali ada penolakan dari 1/3 jumlah negara anggota atau 50 % dari pemilik tonnage yang ada di duniaSuryani, Pratiwi, Sunarji, & Hendrawan, 2018 Dalam pengoperasian kapal ditemukan banyak sekali pekerjaan-pekerjaan baik yang ringan maupun berat yang memiliki tingkat resiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Dalam penelitian ini penulis mengamati sering terjadinya kecelakaan kerja awak Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019 55 kapal, Dengan mengungkapkan faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan pada awak kapal sewaktu bekerja, dan akibat yang timbul karena kecelakaan tersebut, serta upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja bagi awak kapalTjahjanto & Aziz, 2016..\ ANALISA INDIKATOR KESELAMATAN PELAYARAN Beberapa fasilitas keselamatan yang terdapat diatas kapal meliputi 1. Life Boy digunakan sebagai pelampung untuk penumpang apabila tetjadi kecelakaan, tersedia sebanyak 13 buah 2. Life Jacket merupakan jaket pelampung yang dikenakan oleh setiap penumpang apabila dalam kondisi darurat kapal mengalami kecelekaan. Alat tersebut disediakan pada tiap -tiap ruang penumpang dengan jumlah sesuai dengan jumlah penumpang, untuk penggunaan alat terse but terlebih dahulu dilakukan peragaan cara penggunaan. 3. Fire Plant merupakan peta denah evakuasi keadaan darurat alat tersebut terdapat pada di dinding dan diletakan pada suatu tempat yang mudah terjangkau . 4. Life raft - berfungsi seperti sekoci yang digunakan dengan melempar kelaut dan akan mengembang, didalamnya terdapat oxygen 5. Rakit- dengan kapasitas untuk 12 orang sebagai alat angkut penumpang diatas air yang digunakan dalam kondisi darurat apabila terjadi kecelakaan kapal, alat tersebut, tersedia sebanyak 14 buah 6. Sekoci - merupakan perahu kecil yang dilengkapi dengan mesin motor, tersedia satu unit 7. Top Deck Muster station merupakan tempat berkumpul/ evakuasi penumpang pada keadaan darurat, tempat ini terdapat dilantai atas kapal dan merupakan ruang terbuka. 8. Alat pemadam kebakaran, berikut perlengkapannya 9. Disamping beberapa fasilitas keselamatan yang telah disebutkan diatas, untuk mengamankan kendaraan diatas kapal , dipasang suatu alat yang bemama Tali Lasing. yang berguna unuk mengikat kendaraan terutama kendaraaan besar seperti truk agar tidak bergerak bila terjadi guncangan. 10. Diatas kapal disediakan pula tabung alat pemadam kebakaran bila diatas kapal terjadi kebakaran kecil, alat ini berjumlah 11 buah dan diletakan di beberapa tempat yang mudah terjangkau. Disamping persyaratan teknis dan non teknis, dalam manajemen keselamatan pelayaran ada beberapa persyaratan atau kelengkapan administrasi yang harus dipenuhi diantaranya 1. Dokumen Penyesuaian Manajemen Keselamatan Document Of Compliance Merupakan audit dari Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan yang telah memenuhi ketentuan dari Koda Manajemen Intemasional untuk Keselamatan Pengoperasian Kapal dan Pencegahan Pencemaran ISM-Code, dokumen tersebut berlaku selama 5 lima tahun dan wajib dilakukan verfikasi secara berkala setiap 1 satu tahun sekali. Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019 56 2. Sertifikat Manajemen Keselamatan Safety Man- agement Certificate Sertifikat Manajemen Keselamatan diterbitkan oleh Menteri Perhubungan berdasarkan Konvensi Intemasional tentang KeselamatanJiwa di Laut 1974, sertifikat diterbitkan setelah dikakukan audit Sistem Manajemen Keselamatan perusahaan yang telah memenuhi ketentuan dari Koda Manajemen Intemasional untuk Keselamatan pengoperasian kapal dan Pencegahan Pencemaran ISM - Code 3. Sertifikat keselamatan Kapal Penumpang Passanger Ship Safety Certifikate Sertifikat Keselamatan Kapal Penumpang diterbitkan berdasarkan pemeriksaan teknis atas kelengkapankapal termasuk kelengkapankeselamatan yang harus tersedia diatas kapal berdasarkan ketentuan yang berlaku. Pemenuhan fasilitas keselamatan Safety equipment atau perlengkapan keselamatan yaitu segala peralatan dan perlengkapan yang di gunakan untuk melindungi jiwa awak kapal maupun penumpang pada waktu dalam keadaan darurat. Sebagai seorang awak kapal kita harus tahu macam-macam alat keselamatan itu dan juga harus tahu cara menggunakannya dengan benar. Perlengkapan keselamatan yang diuraikan pada penjelasan sebelumnya merupakan bagaian dari manajemen keselamatan. Bebeberapa perlengkapan keselamatan yang terdapat diatas kapal diantaranya Life Jacket yaitu baju pelampung yang di kenakan oleh awak kapal atau penumpang untuk mengapungkan diri di dalam air pada waktu kapal berada dalam keadaan darurat. Alat yang satu ini sudah tidak asing lagi sama seperti alat keselamatan yang ada dalam pesawat terbang. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa jumlah Life Jacket yang tersedia di atas kapal baik kualitas maupun kuantitas sudah sesuai dengan kapasitas jumlah penumpang dan awak kapal yaitu 315 buah, sedangkan jumlah penumpang yang diizinkan sesuai dengan sertifikat keselamatan kapal penumpang yang di miliki adalah 160 penumpang. Bagian penting yang merupakan perlengkapan keselamatan adalah Life Raft yaitu rakit yang di pergunakan untuk penyelamatan jiwa awak kapal dan penumpang pada waktu kapal tenggelam yang terdapat disisi kanan dan sisi kiri berjumlah 8 delapan buah. Sesuai dengan ketentuan dan pemanfaatannya Life Raft yang tersedia diatas kapal telah dilakukan perawatan secara berkala sebagaimana yang tercantum dalam dokumen perawatan. Beberapa item atau kelengkapan yang terdapat didalam Life Raft telah diuraikan diatas , barang-barang dalam Life Raft yang penggunaannya bersifat terbatas seperti makanan, minuman, obat-obatan, umumnya harus ganti dengan barang yang baru apabila telah masuk masa kadaluarsa. Sedangkan untuk alat-alat navigasi dan alat-alat keselamatan seperti Parachut Signal, Hand Flare, Buoyant Smoke Signal, Batteries umumnya diganti setiap 3-5 tahun sekali. Kelengkapan dokumen keselamatan Disamping beberapa perlengkapan keselamatan, untuk mengendalikan keselamatan pelayaran secara intemasional diatur dengan ketentuan International Convention for the Safety of Life at Sea SOLAS, 1974, sebagaimana disebutkan juga dalam Undang- undang T ahun 2008, BAB IX tentang sertifikasi Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019 57 data yang dikumpulkan bahwa sertifikat sebagaimana dimaksud telah terpenuhi diantaranya a. DokumenPenyesuaian Manajemen Keselamatan Document Of Compliance b. Sertifikat Manajemen Keselamatan Safety Man- agement Certificate c. Sertifikat Keselamatan Kapal Penumpang Passanger Ship Safety Certifikate Pelatihan Kegiatan pelatihan Safety Drill yang merupakan kegiatan pelatihan penanganan keadaan darurat yang diikuti oleh semua kru kapal dilaksanakan oleh staf DP A yang bertugas menangani proyek latihan diatas kapal, disamping itu dibentuk juga ERT Emergency Response Team, team yang bergerak pada saat kondisi darurat . Upaya peningkatan fasilitas keselamatan Fasilitas keselamatan kapal telah tersedia diatas kapal sesuai dengan persyaratan dan kebutuhan, namun untuk dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan pemanfaatannya maka perlu adanya peningkatan kualitas melalui pemeliharaan secara intensif Pemeliharaan sebagaimana dimaksud dilakukan pemeriksaan secara berkala antara lain a. Life boy, Life jacket Mengingat barang tersebut relatif jarang digunakan maka perlu dilakukan pemeriksaan tiap satu bulan, baik kondisi, fungsi maupun jumlahnya, hal ini menjaga kemungkinan pada waktu kondisi darurat ada barang barang tidak berfungsi secara sempuma atau jumlahnya berkurang karena adanya tindakan pencurianAgusta & K, 2017; Khikmatul Heny Masitoh, Sonhaji, 2017; Nurhasanah, Joni, & Shabrina, 2015. b. Inflatable Life Raft Fasilitas keselamatan umumnya hanya dipergunakan pada saat-saat darurat terjadinya kecelakaan, perawatan alat keselamatan Life Raft atau Re-Inspec- tion Life Raft umumnya dilaksanakan setiap 1 tahun sekali sesuai SOLAS 1974, baik untuk kapal-kapal niaga, kapal penumpang, maupun kapal-kapal khusus, untuk lebih memastikan kondisi barang tersebut berfungsi sebagaimana mestinya maka perlua adanya pemeriksaan berkala setiap satu bulan, baik secara teknis fungsi dari pada barang itu sendiri maupun perlengkapan yang terdapat didalamnya . c. Sekoci penolong Sekoci penolong merupakan salah satu fasilitas keselamatan yang berupa barang mekanik yang dilengkapi motor tempel, karena merupakan barang mekanik maka perlu pemeliharaan secara rutin sebagaimana pemeliharaan kendaraan bermotor pada umumnya agar fungsi mekaniknya berjalan dengan baik pada saat digunakan. d. Sumber Daya Manusia. Tugas penyelamatan diatas kapal pada saat kondisi darurat saat ini dilaksanakan oleh pihak perusahaan pelayaran yang bemama ERT Emergency Response Team, team yang bergerak pada saat kondisi darurat , namun perlu adanya peningkatan koordinasi antar swasta dalam hal ini perusahaan pelayaran dan pihak pemerintah dengan membentuk tim yang mewakili pihak pemerintah yang khusus menangani kecelakaan diatas kapalMutholib, 2013. Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019 58 Keselamatan kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan material, konstruksi, bangunan, permesinan dan perlistrikan, stabilitas, tata susunan serta perlengkapan termasuk radio, dan elektronika kapal, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang merupakan upaya untuk bebas atau mengurangi tingkat resiko kecelakaan. Keselamatan merupakan hal yang selalu menjadi prioritas utama dalam bidang apapun termasuk di sub sektor transportasi lautSiswoyo, 2016. Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 17 tersebut bahwa sebelum berlayar, kapal harus memenuhi persyaratan kelaiklautan. Pengertian menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran pasal 1 butir 33, kelaiklautan kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, garis muat, pemuatan, kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan penumpang, status hukum kapal, manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal, serta manajemen keamanan kapal untuk berlayar di perairan tertentu. KESIMPULAN Indikator keselamatan kapal dan pelayaran adalah dua sisi yang tidak dipisahkan, kapal harus mempunyai peralatan keselamatan antara lain sekoci, life jaket, alat pemadam kebakaran, dokumen dan sertifikat, kondisi laik layar kapal. Kesehatan para awak kapal, semua harus benar benar disiapkan dan dipastikan keberadaan dan keadaannya sehingga pelayaran akan aman dan selamat. kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan penumpang, status hukum kapal, manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal, serta manajemen keamanan kapal untuk berlayar di perairan tertentu. Sumber daya manusia yang handal dengan ditunjukan dengan sertifikat keahlian menjadi hal yang diharuskan untuk menunjang keselamatan pelayaran sebagai salah satu indikatornya. DAFTAR PUSTAKA Agusta, A., & K. 2017. Analisis Undang-undang Kelautan di Wilayah Zona Ekonomi Eksklusif. Jurnal Pendidikan Geografi, 172, 147–152. Kadarisman, M., & Jakarta, U. M. 2017. Maritime Safety and Safety Policy. Kebijakan Keselamatan Dan Keamanan Maritime Dalam Menunjang Sistem Transportasi, 42, 177–192. Khikmatul Heny Masitoh, Sonhaji, S. 2017. PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI AWAK KAPAL PADA PT PELAYARAN NASIONAL INDONESIA PELNI SEMARANG. DIPONEGORO LAW JOURNAL, 61, 1–12. Mutholib, A. 2013. Kajian fasilitas keselamatan kapal pada lintas penyeberangan 35 ilir- muntok. Jurnal Transportasi, 255, 140–146. Nurhasanah, N., Joni, A., & Shabrina, N. 2015. Persepsi Crew dan Manajemen dalam Penerapan ISM Code Bagi Keselamatan Pelayaran dan Perlindungan Lingkungan Laut. Proceeding SENDI_U, 978–979. Siswoyo, B. 2016. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERALATAN KESELAMATAN KAPAL LAUT DAN PENYE- Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019 59 BERANGAN DI PROVINSI MALUKU. Warta Penelitian Perhubungan, 282, 146–156. Suryani, D., Pratiwi, A. Y., Sunarji, & Hendrawan, A. 2018. Peran syahbandar dalam keselamatan pelayaran. Jurnal Saintara, 22. Tjahjanto, R., & Aziz, I. 2016. ANALISIS PENYEBAB TERJADINYA KECELAKAAN KERJA DI ATAS KAPAL MV . CS BRAVE. Jurnal Kapal, 131, 13–18. ... Regarding the implementation of Designated Person Ashore DPA, shipping companies are expected to reduce the level of accidents in each of their vessels Nurdin, 2018;Suganjar & Hermawati, 2019. In terms of shipping safety, this study supports several previous studies conducted by Hendrawan, 2019;Kadarisman, 2017;Setiono & Mudiyanto, 2010, which explains that ship and shipping safety indicators are two inseparable sides. Talaie & Javidbakht, 2020, added that in order to achieve the objectives of the ISPS Code, all IMO member countries must fully implement the regulations. ...... Several other researchers discussed the recent development of international safety standards for electronic navigation aids on ships. Ships must have safety equipment, including lifeboats, life jackets, fire extinguishers, documents and certificates, ship-worthy conditions Beattie, 2009;Hendrawan, 2019. Hermawan, Anwar, & Junius, 2020 added about the use of the Electronic Chart Display and Information System which is needed to increase understanding and knowledge in using the system. ... Prasadja RicardiantoReza Fauzi Jaya SaktiHonny Fiva Akira SembiringZaenal AbidinThe purpose of this study is to analyze the safety performance of state ships and commercial ships according to the requirements of Solas 1974. The requirements of Solas 1974 in the context of international shipping are mainly related to safety and security issues related to the tools and types of shipping safety. Application of the 1974 Solas Convention and the 2018 Solas Consolidation with the scope of discussion on international shipping is especially related to maritime protection. This study uses the Plan, Do, Check and Action PDCA evaluation model. The data was collected through the interview survey method and continued with statistical testing with the factor analysis technique. Respondents consisted of crews of commercial ships with a weight of over 500 GT and crews of pioneer ships as state ships anchored at the Port of Tanjung Priok. Research respondents totaled 57 crew members, consisting of 23 crew members of state ships and 34 crew members of commercial ships. The results of this research can be used as reference material in terms of safety and security as well as protection against environmental damage, in accordance with the transportation management system policy which includes; manuals, implementation policies, supporting implementation procedures, and work instructions for all stakeholders. The research output can be used as a basis for providing recommendations related to corrective actions to improve the marine transportation management system through the implementation of Solas 1974.... Indonesia merupakan negara maritim, dapat dilihat dari banyaknya pulau yaitu lebih dari pulau merupakan wilayah kedaulatan negara Indonesia. Salah satu modal transportasi yang sangat diperlukan adalah angkutan laut sebagai sarana mobilitas dan penggerak pembangunan ekonomi nasional Hendrawan, 2019. Indonesia belum memiliki sistem transportasi laut yang memadai. ...Abdul RahmanPeningkatan keselamatan kapal merupakan upaya program pemerintah dimana pemerintah memprioritaskan masalah keselamatan transportasi laut yang lebih dikenal “Zero Accident”. Kecelakaan dilaut salah satunya disebabkan faktor lingkungan dan cuaca. Opimalisasi peningkatan keselamatan penyeberangan dengan memperhaatikan informasi BMKG menjadikan referensi waktu operasi kapal. Tujuan penelitin menggambarkan secara sistematis, cermat akurat waktu melakukan operasi kapal terkait upaya optimalisasi keselamatan angkutan penyeberangan Metode diigunakan non-eksperimental bersifat deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Kondisi penyeberangan sering terjadi cuaca buruk untuk pelayaran. Bulan januari, juni-agustus pada jam-jam tertentu cuaca mengalami perubahan pluktuatif-ekstrim sebuah pelayaran. Puncak terjadi juli, gelombang tinggi terjadi diawal hingga pertengahan bulan pada siang-sore menjelan malam, gelombang 3-4 meter, kecepatan angin diatas 25 knot, arus 85-100 m/s. Angin yang bertiup dominan dari arah timur, angin berhembus diperairan menyebabkan arus lebih kuat sehingga kondisi dianggap ekstrim untuk berlayar. Data penyeberangan juni-desember mengalami lonjakan, puncak kepadatan penumpang terjadi juli, ini berpengaruh terhadap waktu operasi kapal, memperhatikan jadwal keberangkatan kapal secara normal dalam 1 bulannya maksimal 60 trip, tetapi juli waktu operasi kapal mencapai 90 trip. Memperhatikan kondisi cuaca terkait waktu operasi untuk peningkatan angkutan penyeberangan perlu melihat informasi BMKG terkait waktu operasi kapal agar menghindari cuaca ekstrim melakukan pelayaran.... sebagian besar responden berpendidikan SLTA dan telah diadakan pelatihan Dasar Kesehatan dan keselamatan kerja yang di dalam terdapat materi tentang Undang dan peraturan keehatan dan keselamatan kerja. Hal terpenting bagaimana kebisingan dapat dikendalikan secara teknis dan manajemen dan akhir bila tidak memungkinkan maka diperlukan APD [11], [12], [19] . ... Andi HendrawanAji Kusumastuti HendrawanAbstrak Salah satu penyebab kecelakaan dan penyakit akibat kerja adalah kebisingan Kebisingan dengan intensitas tinggi yang tidak disadari menyebabkan dampak yang serius bagi tenaga kerja. Upaya kesehatan dan keselamatan kerja harus diupayakan agar meminimalisasi dampak dan sebisa mungkin tidak menimbulkan kecelakaan dan penyaki akibat kerja. Penerlitian ini bertujuan untuk memetakan kebisingan di ruang bengkel AMN. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian survey dengan pendekatan crosesctional saund level untuk mengukur kebisingan. Pengukuran dilakukan pada semua ruangan atau tempat yang memungkinkan sebagai tempat kegiatan. Hasil pengkuran menujukan masih di bawah ambang batas yang diijinkan baik berdasarkan Standar ILO maupun Pemerintah. Kata kunci kebisingan, bengkel Abstract One of the causes of occupational accidents and diseases is noise. High intensity noise that is not realized causes a serious impact on the workforce. Efforts for health and work safety must be made in order to minimize the impact and as much as possible do not cause accidents and illness due to work. This research aims to map the noise in the AMN workshop room. Type of Research This type of research is a type of survey research with a cross sectional Saund level approach to measure noise. Measurements are made in all rooms or places that are possible as places of activity. The measurement results show that it is still below the allowable threshold based on both the ILO Standards and the Government. Pendahuluan Kesehatan kerja adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap pekerja dapat bekerja secara sehat dengan produktivitas yang optimal tanpa membahayakan diri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya. Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal[1]. Kebisingan dengan intensitas tinggi yang tidak disadari menyebabkan dampak yang serius bagi tenaga kerja dan taruna serta ketidaknyamanan untuk setiap pengguna bengkel. Contoh kebisingan yang berpengaruh langsung pada kenyamanan penumpang antara lain dari main engine itu sendiri yang merupakan sumber kebisingan terbesar, exhaust gas outlet pada dek serta auxiliary machinery dan lain lain [2]. Transisi epidemiologi penyakit adalah kecenderungan perubahan pola kesakitan berupa penurunan prevalensi penyakit infeksi dan peningkatan prevalensi penyakit noninfeksi atau penyakit degeneratif seperti hipertensi.. Kebisingan akan meningkatkan resiko hipertensi, hal ini karena menimbulkan ketidaknyaman sehingga akan meningkatkan emosi seseorang [3][4]. Pengaruh utama kebisingan kepada kesehatan adalah kerusakan kepada indera pendengar, yang menyebabkan tuli progresif, dan akibat demikian telah diketahui dan diterima umum untuk berabad-abad lamanya. Dengan kemampuan kesehatan kerja hiperkes, akibat buruk kebisingan kepada alat pendengaran bolehAdrian NugrahaMuhammad SyaifuddinAkhmad IdrisDedeng DedengDense maritime activity in Indonesia potentially causes ship accidents such as shipwreck, ship aground, ship collision, and ship on fire. If a ship accident occurs, stakeholders must be legally responsible for any losses from their mistakes during the voyage. This community service activity aims to increase participants’ understanding of legal responsibility for ship accidents to minimize ship accidents in the future. This activity carried out legal counseling using presentation and question and answer methods with 40 participants, consisting of teachers and students at the Sinar Bahari Palembang Maritime Vocational High School. The results of this activity indicate that the implementation of this legal counseling has significantly improved the participants’ understanding. This increased understanding includes shipping security and safety, parties who are legally responsible for ship accidents, the role of the National Transportation Safety Commission in handling ship accidents, and law enforcement in ship accident casesAchmad Ali MashartantoFauziah RoseliaAndrianus Deni Kristianem>Safety equipment merupakan alat-alat yang dapat digunakan untuk menjamin keselamatan dalam menjalani pekerjaan. Tidak semua alat-alat keselamatan yang berada di atas kapal dapat bekerja dan terpelihara dengan baik Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang menjadi penyabab perlu diadakannya sebuah sistem perawatan safety equipment di kapal dan untuk mengetahui upaya yang dilakukan agar safety equipment dapat bekerja secara baik dan tidak mengalami malfunction di kapal MT. Gas Natuna. Data yang diperoleh adalah data yang dikumpulkan dari hasil observasi dimana peneliti mengamati langsung objek penelitian, dokumentasi dimana peneliti mengambil gambar menggunakan kamera sebagai alat pendukung, dan wawancara dimana peneliti mengajukan pertanyaan langsung kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat. Karya Ilmiah Terapan ini menggunakan pendekatan metode Miles & Huberman analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. Data yang disajikan adalah data primer dan data sekunder diperoleh peneliti saat melaksanakan praktek laut selama sembilan bulan delapan hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menjadi penyebab perlu diadakannya perawatan terhadap safety equipment di kapal MT. Gas Natuna adalah menerapkan aturan pemerintah Indonesia, ketetapan SOLAS 1974, IMO, ILO, ISM Code. Adapun juga bahwa upaya yang dilakukan agar safety equipment dapat bekerja dengan baik dan tidak mengalami malfunction adalah dengan melaksanakan perawatan secara rutin dan berkala sesuai dengan tabel PriambudiThis study aims to determine the correct loading procedure for ships to reduce the risk of accidents, in accordance with applied operating standards. The study also evaluates the performance of operational officers in the field, to identify when and why they deviate from established protocols, and what risks this poses to passenger safety. The study uses the normative legal method or normative jurisdiction approach, combined with descriptive analysis, drawing on primary data through interviews and observations and secondary data via the study of legislation and books related to this research. The research concludes that one of the greatest risks to passenger safety is inaccurate loading manifestos. To avoid this, each passenger and driver should be required to produce a ticket, to better manage the volume of passengers and ensure ships are not overloaded and the cargo manifests offer clear and accurate information. Keywords Loading, Passenger, SafetyPaulina M. LatuheruAll users of sea transportation in Indonesia in particular and in the world in general, place great importance on safety and security issues. They are vital to avoid accidents which can include the sinking or burning of ships, collisions and running aground. The causes of accidents can be broken down into three groups human factors; technical factors; and weather factors. These can result in loss of life, psychological trauma to survivors, material losses, and environmental damage. This study proposes the following as key considerations in the reduction of accidents the provision of safe practice guidelines; identify and introduce protections for all risk categories; continuously improve onboard and personal safety measures. In addition, measures can be taken to mitigate the impact of accidents after they occur, such as responsivity, the collection of evidence to establish why accidents occur and ensure they do not occur again, good leadership and demeanors from ship personnel. Keywords Ship Accidents, Prevention Efforts, CountermeasuresAbdul MutholibDermaga penyebrangan 35 Ilir dengan tujuan Muntok dilayani oleh 6 Enam kapal dengan kecenderungan menunjukkan bahwa pelabuhan penyeberangan lebih berfungsi sebagai angkutan barang dan kendaraan roda empat dan roda dua R4 dan R-2 dan angkutan penumpang, Menyadari pentingnya keselamatan dalam angkutan penyeberangan operator kapal juga dituntut untuk meningkatkan pelayanan, termasuk ketepatan waktu dan kesiapan alat keselamatan di dalam kapal, misalnya pelampung yang jumlahnya harus disesuaikan dengan isian kapal. Dalam rangka meningkatkan pelayanan keselamatan angkutan laut pada lintas penyeberangan 35 Ilir - Muntok telah dilakukan secara priodik pemeriksaan kapal Roro yang meliputi pemeriksaan konstruksi badan kapal, sistem permesinan, perlengkapan kapal, alat telekomunikasi kapal, alat keselamatan penumpang dan perlengkapan navigasi kapal .Dedeh SuryaniAprilia Yudi Pratiwi Andi HendrawanSafety of shipping is very important and occupies a central position in all aspects of the shipping world. Aspects inherent in the safety of shipping include characteristics of attitudes, values, and activities concerning the importance of the fulfillment of safety and security requirements relating to transport in waters and ports. This paper discusses the role of syahbandar in the cruise shelter. Safety of shipping is an integral part of the role of syahbandar, the study of this article is a literature review or library research. The results show that the role of syahbandar is very important in the safety system of shipping PENDAHULUAN Indonesia sebagai Negara kepulauan yang terbesar dengan 17 tujuh belas ribuan pulau hanya bisa terhubungkan dengan baik dengan system transportasi multi moda. Angkutan laut merupakan salah satu moda transportasi tersebut, selain memiliki peran sebagai sarana pengangkutan yang secara Nasional dapat menjangkau seluruh wilayah melalui perairan sehingga dapat menunjang, mendorong, dan menggerakkan pertumbuhan daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar dalam upaya meningkatkan dan memeratakan pembangunan dan hasilnyaN, 2015 berdasarkan data dari Tahun 2011-2014 banyak terjadi musibah atau kecelakaan kapal laut berbendera Indonesia. Hal ini terjadi karena dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dunia yang secara otomatis berdampak pada peningkatan kebutuhan ekonomi masyarakat, termasuk pula semakin banyak kegiatan angkutan melalui darat, udara dan lautThamrin, 2015 Keselamatan pelayaran merupakan hal yang sangat penting dan menduduki posisi sentral dalam segala aspek di dunia pelayaran. Aspek yang melekat pada keselamatan pelayaran meliputi karakteristik sikap, nilai, dan aktivitas mengenai pentingnya terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan yang menyangkut angkutan di perairan dan kepelabuhanan. Pengabaian atas keselamatan pelayaran cenderung meningkatkan biaya ekonomi dan lingkungan seperti penurunan produksi, timbul biaya medis, terjadi polusi dan penggunaan energi yang tidak efisien. Rendahnya keselamatan pelayaran ini dapat di aklnbatkan oleh lemahnya manajemen sumber daya manusia pendidikan, kompetensi, kondisi kerja, jam kerja dan manajemen proses. Keselamatan merupakan bagian integral pada manajemen perusahaan pelayaran secara umum untuk mendukung kondisi kerja diatas kapal yang lebih baik. Manajemen tidak banya mengaitkan kapal dengan Muh KadarismanThe research aimed to analyze maritime safety and security policy in supporting of marine transportation system. This study uses descriptive method, because the data collected in the form of words, images, and not the numbers. The data comes from interviews, field observations, focus group discussions, videotapes, photos, notes or memos, and other official documents. Data analysis with ethical and emic approach and triangulation process. Determination of Informant with purposive technique. Result of research Sea transport in Indonesia not yet optimally developed, but has strong potency to be developed, considering its characteristic able to do mass transportation. Therefore, the safety and security system is a key factor to be considered and as a basis and benchmark for decision makers. The safety and security system of sea transportation in Indonesia has not run optimally, there are still many accidents both because of natural factors and human factors. Government policies in the maritime field, whether the fishery industry or the shipping industry have not been implemented consistently in accordance with applicable law. So far, the development of maritime potential has been hit by structural problems, and there is no national political awareness of the magnitude of the economic, fisheries and maritime potentials. Little is known about the potential content of Indonesia’s marine resources, thus opening the door for various research and development of Undangundang Kelautan di Wilayah Zona Ekonomi EksklusifA AgustaAgusta, A., & K. 2017. Analisis Undangundang Kelautan di Wilayah Zona Ekonomi Eksklusif. Jurnal Pendidikan Geografi, 172, Crew dan Manajemen dalam Penerapan ISM Code Bagi Keselamatan Pelayaran dan Perlindungan Lingkungan Laut. Proceeding SENDI_UN NurhasanahA JoniN ShabrinaNurhasanah, N., Joni, A., & Shabrina, N. 2015. Persepsi Crew dan Manajemen dalam Penerapan ISM Code Bagi Keselamatan Pelayaran dan Perlindungan Lingkungan Laut. Proceeding SENDI_U, 978-979. Source: Google Image. Bekerja di kapal sangat dituntut suatu kedisiplinan yang timbul dari kesadaran sendiri. Sebagai contoh seorang ABK yang tidak memakai alat pelindung diri, Alasannya sengaja tidak menggunakan alat keselamatan kerja karena hanya merepotkan saja dan membuat pergerakan pada saat bekerja tidak bebas, oleh karena ia pikir hal itu tidak perlu.
Jakarta - Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan kembali menghadiri pertemuan tahunan Asia Pacific Heads of Maritime Safety Agencies APHoMSA ke-23. Delegasi Idonesia menyampaikan paper pada bidang keselamatan pelayaran, termasuk soal kesejahteraan pelaut dengan mempresentasikan Indonesian Integrated Monitoring System on Navigation atau Perambuan dan Perbengkelan Direktorat Kenavigasian, Yudhonur Setyaji, menjelaskan I-Motion adalah sebuah sistem yang dibangun oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut cq. Direktorat Kenavigasian, yang mengintegrasikan data dari Vessel Traffic Services VTS dan Stasiun Radio Pantai SROP berupa Automatic Identification System AIS Base Station, Radar, Voice, CCTV secara terrestrial system dengan data AIS melalui layanan satellite."Direktorat Jenderal Perhubungan Laut selaku Maritime Authorities of Indonesia memiliki tugas dan fungsi menciptakan keselamatan dan kemanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim, khususnya pada wilayah Asia Pasifik sebagai anggota APHoMSA. Untuk itu, pada pertemuan kali ini kami menyampaikan pengembangan I-Motion yang telah kita lakukan sebagai wujud komitmen kita dalam melaksanakan tugas dan fungsi kita tersebut," ujar Yudho dalam keterangan tertulis dikutip Kamis 8/6/2023. Ia melanjutkan, I-Motion dapat digunakan untuk memantau lalu lintas kapal secara real-time dan historis, meningkatkan keselamatan dan efisiensi navigasi pelayaran, sekaligus mendukung layanan perlindungan lingkungan pemantauan secara real-time, Yudho menambahkan, I-Motion memiliki beberapa fitur lain seperti peta kepadatan, eksplorasi data, detail informasi kapal dan pelayaran, dukungan informasi cuaca, pengawasan CCTV dan aliran komunikasi radio VHF, serta analisis lalu lintas laut dan manajemen Yudho, selain mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi dalam pengawasan lalu-lintas pelayaran di Perairan Indonesia dalam mewujudkan keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim, I-Motion juga dapat dimanfaatkan dan dapat bersinergi dengan sistem yang dimiliki oleh Kementerian/Lembaga Pamer Keselamatan Pelayaran-Kesejahteraan Pelaut di Forum Internasional Foto Dok. KemenhubLebih lanjut, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, juga telah melakukan komunikasi dan konsultasi dengan stakeholder dan instansi terkait melalui penyelenggaraan workshop. Hal ini dilakukan selain untuk memberikan informasi terbaru tentang I-Motion agar pengembangan sistem tersebut dapat sesuai dengan standar keamanan siber, juga untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan navigasi pelayaran."Untuk itulah, pada kesempatan ini kami memaparkan tenggang pengembangan Sistem I-Motion pada pertemuan APHoMSA, untuk mendapatkan masukan dan komentar dari para anggota, juga untuk membuka peluang kolaborasi negara anggota lain dengan Indonesia dalam hal pengembangan I-Motion," tukas informasi, APHoMSA merupakan forum kerja sama terkait keselamatan dan keamanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim di wilayah Asia-Pasifik untuk mengidentifikasi dan mengkoordinasikan kerja sama maupun upaya-upaya teknis secara internasional. Forum yang diselenggarakan setiap tahunnya sejak tahun 1996 ini membahas tentang isu-isu terkait perlindungan lingkungan maritim, keselamatan dan keamanan pelayaran termasuk kesejahteraan pelaut, respons terhadap kecelakaan di laut, kerja sama regional, serta isu-isu maritim terkait APHoMSA ke-23 diselenggarakan oleh Pemerintah Australia melalui Australian Maritime Safety Authority dan Pemerintah Mongolia melalui Mongolia Maritime Administration pada tanggal 5 8 Juni 2023 di Sydney. Pada pertemuan dimaksud Indonesia mengirimkan 5 lima orang Delegasi yang dipimpin oleh Kasubdit Perambuan dan Perbengkelan Direktorat Kenavigasian, beranggotakan Kasubdit Telekomunikasi Pelayaran dan staf teknis dari Direktorat Kenavigasian Ditjen Perhubungan Laut. ara/ara
Dasardasar Keselamatan di Laut 2 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Deskripsi Mata pelajaranDasar-DasarKeselamatan Di Laut (DKL) merupakan mata pelajaran yang membahas tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja, kondisi darurat
Jakarta Holding BUMN Jasa Durvei PT Biro Klasifikasi Indonesia Persero alias IDSurvey menggelar pelatihan dalam proses perkapalan peti kemas. Kali ini yang disasar asalah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. Direktur Utama IDSurvey Arisudono Soerono menyampaikan langkah ini sebagai upaya meningkatkan kesadaran atas keselamatan serta melaksanakan hasil Convention for Safe Container CSC. Neraca Dagang Indonesia Surplus Tiga Tahun Berturut-turut “Lewat pelatihan ini kami berharap para personil tak hanya memperoleh kemampuan secara teoritis dan praktikal serta pengetahuan administratif, tapi juga kompetensi dalam pemenuhan standar penerapan peraturan terkait kelaikan peti kemas,” ujar Arisudono Soerono dalam keterangan resminya, Selasa 6/6/2023. Dia menyampaikan, pada 1972, berlangsung Convention for Safe Container CSC, ketika dunia Internasional telah menentukan standar keselamatan dan konstruksi peti kemas untuk segala jenis transportasi darat dan laut. Konvensi ini dilaksanakan karena adanya kesadaran bahwa tanpa pengamanan dan penanganan yang tepat, potensi kecelakaan peti kemas ini sangatlah besar. Selain mengacu pada konvensi tersebut, pelatihan yang berlangsung di Ballroom Ali Sadikin Gedung Graha PT BKI Persero, Jakarta ini juga dalam rangka memenuhi standar keamanan dan penanganan peti kemas. Ini mengacu Peraturan Menteri Perhubungan No. 25 Tahun 2022 tentang Kelaikan Peti Kemas dan Berat Kotor Peti Kemas Terverifikasi. Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Rancang Bangun, Stabilitas dan Garis Muat Kapal Ditjen Hublq Muhammad Syaiful mengapresiasi hadirnya pelatihan ini. “Kami mengapresiasi pelatihan oleh PT BKI Persero ini sehingga terjadi kolaborasi dalam mempersiapkan hal-hal yang diperlukan atau disyaratkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan terkait kelaikan peti kemas,” kata Syaiful. Kepastian HukumNeraca perdagangan Indonesia diprediksi akan surplus USD 3,25 miliar di April 2023, atau sedikit meningkat dari surplus USD 2,91 miliar. BuhoriPeraturan yang diterbitkan oleh Kementerian Perhubungan merupakan komitmen melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut sebagai regulator untuk melaksanakan peraturan International Maritime Organization IMO, yaitu Convention for Safe Container CSC. Pemberlakuan Peraturan Menteri Perhubungan tersebut memberikan kepastian hukum kepada stakeholder peti kemas maupun syahbandar dan penyelenggara pelabuhan terhadap kelaikan peti kemas dan Verified Gross Mass VGM. Dengan adanya Pelatihan Surveyor Container, keduanya berharap sinergi yang terjalin bisa mengimplementasi peraturan IMO melalui Convention For Safe Container CSC yang tepat sehingga bisa meningkatkan kelaikan, keselamatan operasional peti kemas di pelabuhan dan kapal maupun keselamatan kapal itu sendiri. Bidik Kerja Sama InternasionalIDSurvey sebagai Holding BUMN jasa survei turut memantau dan berpartisipasi dalam Program Mudik Bersama 2023 dengan Kementerian PerhubunganDiberitakan sebelumnya, Holding BUMN Jasa Survei PT Biro Klasifikasi Indonesia Persero atau IDSurvey tengah membidik kerja sama dan investasi di sektor maritim. Salah satunya lewat pameran maritim internasional, Sea Indonesia di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat. VP Sekretaris Perusahaan IDSurvey Misbahudin Aidy menuturkan, ada peluang kerja sama dan investasi dari berbagai peserta. Mengingat, peserta pameran banyak dari negara asing, seperti China, Malaysia, Korea Selatan, dan Singapura. "Dalam pameran ini, potensi Biro Klasifikasi Indonesia di dunia kemaritiman Indonesia sangat besar, ditambah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan selaras dengan tujuan dari Pemerintah RI untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu 17/5/2023. Tak hanya kerja sama internasional, Aidy juga membidik adanya peluang dari perusahaan nasional sejenis. Tujuannya, memanfaatkan bidang kelautan di Indonesia. PeluangKapal bongkar muat peti kemas di dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa 6/5/2023. BuhoriDia menuturkan, salah satu aspek yang bisa jadi peluang adalah penerapan energi hijau yang ramah lingkungan atau green energy. "Tentunya juga green energy yang menjadi salah satu fokus dari tema seminar yang diangkat dalam Conference Sea Indonesia. Hal ini sejalan dengan tujuan IDSurvey PT Biro Klasifikasi Indonesia Persero yaitu untuk kemajuan pada sektor maritim Indonesia," bebernya. Informasi, Pameran Sea Indonesia 2023 dilaksanakan pada 15-17 Mei 2023, dengan tagline Maritime One Stop Shop MOSS dan The Most Exclusive Maritime Exhibition & Conference. Kegiatan ini resmi dibuka oleh Direktur Jenderal PDSKP Kementerian Kelautan dan Perikanan Budi Sulistyo didampingi Johnson W. Sutjipto, Direktur Utama PT Kshatriya Piningit Kamulyan sebagai Event Organizer dan Senior Vice President Bank Mandiri Ferdianto Munir sebagai main sponsor. Selain itu Direktur Utama IDSurvey Arisudono beserta pejabat IDSurvey juga turut hadir meramaikan perhelatan ini.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Patuhiperaturan, denah, dan petunjuk keselamatan yang ada di kapal Sesuai PM 119 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Angkutan Laut, setiap penyelenggara angkutan laut wajib menyediakan fasilitas keselamatan dan kesehatan yang mudah terlihat dan terjangkau. A. Fasilitas Keselamatan
Home Sektor Riil Selasa, 06 Juni 2023 - 2212 WIBloading... Sejumlah pihak terus meningkatkan standar keselamatan transportasi darat dan laut. Foto/Dok A A A JAKARTA - PT Biro Klasifikasi Indonesia Persero atau BKI sebagai induk Holding BUMN Jasa Survei atau IDSurvey mengajak seluruh stakeholders meningkatkan kesadaran atas keselamatan serta melaksanakan hasil Convention for Safe Container CSC. Direktur Utama ID Survey Arisudono Soerono berharap inisiasi ini dapat meningkatkan kemampuan para personel guna peningkatan standar keselamatan dan konstruksi peti kemas untuk segala jenis transportasi darat dan laut. Baca Juga “Kami berharap para personel tak hanya memperoleh kemampuan secara teoritis dan praktikal serta pengetahuan administratif, tapi juga kompetensi dalam pemenuhan standar penerapan peraturan terkait kelaikan peti kemas,” ujar Arisudono Soerono dalam keterangan resminya, Selasa 6/6/2023. Dia menjelaskan pada 1972 berlangsung Convention for Safe Container CSC, ketika dunia internasional telah menentukan standar keselamatan dan konstruksi peti kemas untuk segala jenis transportasi darat dan laut. Konvensi ini dilaksanakan karena adanya kesadaran bahwa tanpa pengamanan dan penanganan yang tepat, potensi kecelakaan peti kemas ini sangatlah besar. Kepala Sub Direktorat Rancang Bangun, Stabilitas dan Garis Muat Kapal, Kementerian Perhubungan Muhammad Syaiful mengatakan pemenuhan standar keamanan dan penanganan peti kemas juga mengacu kepada Peraturan Menteri Perhubungan No. 25 Tahun 2022 tentang Kelaikan Peti Kemas dan Berat Kotor Peti Kemas Terverifikasi. Syaiful berharap pelatihan BKI dapat meningkatkan kolaborasi dalam mempersiapkan hal-hal yang diperlukan atau disyaratkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan terkait kelaikan peti peraturan yang diterbitkan Kemenhub merupakan komitmen melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut sebagai regulator untuk melaksanakan peraturan International Maritime Organization IMO, yaitu Convention for Safe Container CSC. Dia memastikan pemberlakuan Peraturan Menteri Perhubungan tersebut memberikan kepastian hukum kepada stakeholder peti kemas maupun syahbandar dan penyelenggara pelabuhan terhadap kelaikan peti kemas dan Verified Gross Mass VGM. Baca Juga Dengan adanya Pelatihan Surveyor Container, keduanya berharap sinergi yang terjalin bisa mengimplementasi peraturan IMO melalui Convention For Safe Container CSC yang tepat sehingga bisa meningkatkan kelaikan, keselamatan operasional peti kemas di pelabuhan dan kapal maupun keselamatan kapal itu sendiri. uka holding bumn sektor transportasi peti kemas berita bisnis Baca Berita Terkait Lainnya Berita Terkini More 7 menit yang lalu 16 menit yang lalu 38 menit yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu
Berikutini adalah alat keselamatan kerja kapal yang harus ada disebuah kapal untuk menjamin keselamatan pekerja. Menggunakan Pelindung Pakaian pelindung adalah coberall yang melindungi tubuh anggota awak dari bahan-bahan berbahaya seperti minyak panas, air, percikan pengelasan dll hal ini dikenal 'Dangri' or 'Boiler Suit' Helm
To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the author.... Keterampilan keselamatan dasar atau basic safety adalah keterampilan yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin bekerja di kapal baik kapal dagang, kapal perikanan, kapal wisata, dan kapal lainnya. Keselamatan kerja di laut tidak saja bergantung dari kapalnya, awak maupun peralatannya, tetapi terutama kesiapan dari peralatan-peralatan tersebut untuk dapat digunakan setiap saat, baik sebelum berangkat maupun di dalam perjalanan Suhartoyo, 2018 Ashury DJ.,2020. ...Slamet Prasetyo Yeti KomalasariFitri MasitoTujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberikan edukasi bagi masyarakat di sekitar Desa Mariana, Banyuasin Palembang terkait teknik penyelamatan diri di perairan agar bisa meminimalisir dampak kerugian baik berupa kehilangan harta benda maupun nyawa yang diakibatkan oleh kecelakaan di atas kapal. Metode yang digunakan adalah pelatihan berupa pemberian kompetensi dasar teknik penyelamatan diri di perairan dengan menggunakan 4 jam pelajaran teori di kelas dan 4 jam pelajaran praktik dilapangan 1 jam pelajaran = 45 menit. Kegiatan Pelatihan ini secara keseluruhan berjalan dengan baik dan lancar, dengan rata-rata nilai kepuasan peserta memberi respon sangat setuju 83,14%, skala 4 dengan kategori sangat baik A sebagai indikator bahwa respon yang sangat positif dari peserta terhadap kegiatan Pelatihan“Teknik Penyelamatan Diri di Perairan bagi Masyarakat Desa Mariana, Banyuasin Palembang”.... Keterampilan keselamatan dasar atau basic safety adalah keterampilan yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin bekerja di kapal baik kapal dagang, kapal Perikanan, kapal wisata, dan kapal lainnya. Keselamatan kerja di laut tidak saja bergantung dari kapalnya, awak maupun peralatannya, tetapi terutama kesiapan dari peralatan-peralatan tersebut untuk dapat digunakan setiap saat, baik sebelum berangkat maupun di dalam perjalanan Suhartoyo, 2018. ...Safety of life at sea is highly prioritized to reduce the impact of losses on humans, ships and their cargo. The purpose of this community service implementation is to provide an overview and information about marine life in the form of rules about basic safety and skills to use basic safety equipment on ships. There were 29 socialization participants who were teachers of the natural tadabbur group of SMA Muhammadiya Al-Amin Sorong. The results of the participant's observations can follow and demonstrate the practice that was done.... Lemahnya sistem keselamatan di laut menjadi penyebab potensial besarnya korban kecelakaan di laut. Suhartoyo, 2018. ...Fajar GumelarHERI SUTANTOMUH. SYAFRIL SUNUSII Komang Hedi Pramana AdiputraPeranan awak kapal atau ABK yang bekerja di kapal agar selalu menggunakan alat-alat keselamatan pada saat kerja di dek maupun di kamar mesin guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi seperti kecelakaan di atas Kapal. Penelitian ini menggunakan metode cause and effect dengan diagram fishbone dan formal safety assessment menggunakan tahapan wawancara dan Qusioner dengan tujuan untuk mendapatkan standar safety Work assessment yang direkomedasikan IMO. Penerapan prosedur keselamatan kerja di atas di Kl. Frans Kasiepo masih kurang diterapkan dalam pekerjaan oleh crew diantaranya kurangnya keterampilan atau pengetahuan tentang penerapan prosedur keselamatan kerja dan kurang adanya familiarisasi keselamatan kerja untuk crew di atas kapal. Kecelakaan kerja yang terjadi pada crew Kl. Frans Kasiepo disebabkan oleh beberapa faktor seperti, kurangnya pengalaman crew dalam bekerja di atas kapal, kurangnya kedisiplinan dan pemahaman akan penerapan prosedur keselamatan kerja. Sehingga mengkibatkan kerugian bagi crew maupun bagi Instansi.... Several previous studies also support the Maritime Environmental Security factor in this study. International Safety Management Code ISM Code and ISPS Code in previous research conducted by Mukherjee, 2007;Naily et al., 2019;Nikcevic Grdinic, 2015;Suganjar & Hermawati, 2019;Suhartoyo, 2018 It is hoped that the implementation of the ISM-Code will make ship safety more secure. ISM-Code requires a strong commitment from the level of shipping leadership to executor, both on land and at sea crew. ... Prasadja RicardiantoReza Fauzi Jaya SaktiHonny Fiva Akira SembiringZaenal AbidinThe purpose of this study is to analyze the safety performance of state ships and commercial ships according to the requirements of Solas 1974. The requirements of Solas 1974 in the context of international shipping are mainly related to safety and security issues related to the tools and types of shipping safety. Application of the 1974 Solas Convention and the 2018 Solas Consolidation with the scope of discussion on international shipping is especially related to maritime protection. This study uses the Plan, Do, Check and Action PDCA evaluation model. The data was collected through the interview survey method and continued with statistical testing with the factor analysis technique. Respondents consisted of crews of commercial ships with a weight of over 500 GT and crews of pioneer ships as state ships anchored at the Port of Tanjung Priok. Research respondents totaled 57 crew members, consisting of 23 crew members of state ships and 34 crew members of commercial ships. The results of this research can be used as reference material in terms of safety and security as well as protection against environmental damage, in accordance with the transportation management system policy which includes; manuals, implementation policies, supporting implementation procedures, and work instructions for all stakeholders. The research output can be used as a basis for providing recommendations related to corrective actions to improve the marine transportation management system through the implementation of Solas 1974.... Keterampilan keselamatan dasar atau basic safety adalah keterampilan yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin bekerja di kapal baik kapal dagang, kapal Perikanan, kapal wisata, dan kapal lainnya. Keselamatan kerja di laut tidak saja bergantung dari kapalnya, awak maupun peralatannya, tetapi terutama kesiapan dari peralatan-peralatan tersebut untuk dapat digunakan setiap saat, baik sebelum berangkat maupun di dalam perjalanan Suhartoyo, 2018. ...Abstrak Keselamatan jiwa di laut sangatlah diutamakan untuk mengurangi dampak kerugian kepada manusia, kapal, dan muatannya. Tujuan pelaksanaan pengabdian masyarakat ini untuk memberikan gambaran dan informasi tentang kebaharian berupa aturan tentang keselamatan dasar dan ketrampilan menggunakan alat keselamatan dasar di kapal. Peserta sosialisasi sebanyak 29 orang yang merupakan guru-guru rombongan tadabbur alam SMAS Muhammadiya Al-Amin Sorong. Hasil pengamatan peserta dapat mengikuti dan memperagakan praktik yang dilakukan. Kata Kunci sosialisasi; keselamatan dasar; SOLAS. Abstract Safety of life at sea is highly prioritized to reduce the impact of losses on humans, ships and their cargo. The purpose of this community service implementation is to provide an overview and information about marine life in the form of rules about basic safety and skills to use basic safety equipment on ships. There were 29 socialization participants who were teachers of the natural tadabbur group of SMA Muhammadiya Al-Amin Sorong. The results of the participant's observations can follow and demonstrate the practice that was done. A. LATAR BELAKANG Keselamatan jiwa di laut sangatlah diutamakan untuk mengurangi dampak kerugian kepada manusia, kapal, dan muatannya Faturachman et al., 2015. Hal ini dapat terlihat dari begitu besar perhatian negara-negara dunia maritim untuk secara bersama-sama mengadakan Konvensi Internasional tentang Keselamatan jiwa di laut Safety of Life At Sea pada tahun 1974 yang dikenal sebagai SOLAS 1974. Sistem menejemen keselamatan merupakan salah satu faktor mutlak yang harus dipenuhi, setiap orang yang bekerja maupun melakukan perjalanan menggunakan transportasi laut setidaknya memiliki pengetahuan tentang basic safety untuk dapat menyelesaikan tugasnya dengan hasil yang optimal Anna, 2018. Keterampilan keselamatan dasar atau basic safety adalah keterampilan yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin bekerja di kapal baik kapal dagang, kapal Perikanan, kapal wisata, dan kapal lainnya. Keselamatan kerja di laut tidak saja bergantung dari kapalnya, awak maupun peralatannya, tetapi terutama kesiapan dari peralatan-peralatan tersebut untuk dapat digunakan setiap saat, baik sebelum berangkat maupun di dalam perjalanan Suhartoyo, 2018.p align="justify"> PT Pertamina Persero is a State-Owned Enterprise BUMN which is engaged in the energy sector, including oil, gas, and new and renewable energy which has a shipping business sector. Ship crews have a lot of serious occupational risks. This article aims to determine the effectiveness of the protection provided by PT Pertamina Persero to its ship crew in terms of the Sea far ers ’ Employment Agreement. Legal protection for ship crew members can be seen from the compatibility of the seaf ar ers ’ employment agreement with the applicable laws and regulations. This article uses a normative legal research method doctrinal research, namely through the collection of primary legal materials by tracing related laws and regulations and secondary legal materials obtained by collecting relevant textbooks, scientific works, journals, and previous research. The conclusion obtained from the results of the discussion is that the seaf ar ers ’ employment agreement at PT Pertamina Persero has not been fully able to function optimally to provide legal protection for its ship crew members.
TeknologiKapal Tanpa Awak. Di tahun 2021 ini, banyak pihak yang membicarakan soal kehadiran kapal tanpa awak atau Marine Autonomous Surface Ships (MASS). Menurut dia penerapan MASS di Indonesia harus dipikirkan matang-matang. "Saya tegaskan bahwa saya bukan anti terhadap kemajuan teknologi kapal laut. Tapi sebelum diterapkan sepenuhnya
Kecelakaan kerja bisa terjadi dimana saja, baik itu di darat, udara maupun di laut. Masing-masing wilayah memiliki standar serta alat keselamatan kerja yang berbeda-beda, tergantung area kerja dan jenis pekerjaannya. Begitu juga saat bekerja di atas kapal, ada standar keamanan yang diatur oleh badan organisasi PBB melalui IMO mengeluarkan SOLAS Safety of Life At Sea. Peraturan dan pedoman yang dikeluarkan harus diikuti oleh kapal dengan ukuran GT > 25 ton. Namun untuk kapal ukuran < GT 25 ton bisa mengikuti aturan masing-masing Negara. Semua peraturan dan pedoman yang dibuat semata-mata hanya untuk kepentingan keselamatan pekerja. Pasalnya, pekerjaan di atas kapal bukanlah hal yang mudah, bahkan penuh dengan resiko. Untuk itu, menjaga keamanan dan keselamatan pekerja akan menjadi tanggung jawab semua pihak. Peraturan K3 Di Atas Kapal Berikut ini peraturan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja K3 di atas kapal UU 1 Th. 1970 mengenai keselamatan kerja Peraturan Menteri 4 Tahun 1980 mengenai syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan SOLAS 1974 beserta amandemen - amandemennya mengenai persyaratan keselamatan STCW 1978 Amandemen 1995 mengenai standar pelatihan bagi para ISM Code mengenai code manajemen internasional untuk keselamatan pengoperasian kapal dan pencegahan Occupational Health 1950 mengenai usaha kesehatan kerja International Code of Practice mengenai petunjuk - petunjuk tentang prosedur / keselamatan kerja pada suatu peralatan, pengoperasian kapal Peralatan K3 dan Alat Keselamatan Lainnya SOLAS tidak hanya mengatur pedoman keselamatan, namun didalamnya juga terdapat rekomendasi alat keselamatan kerja saat di atas kapal. Mulai dari peralatan K3 hingga sekoci termasuk di dalamnya. Berikut ini kami rangkum beberapa diantaranya Jaket Pelampung Jaket pelampung merupakan salah satu peralatn K3 yang wajib ada di kapal. Jaket berbentuk seperti safety vest ini berfungsi untuk membuat penumpang dapat mengapung saat berada di laut. Dalam kondisi darurat, seperti saat kapal akan tenggelam, semua penumpang atau pekerja harus segera menggunakan jaket pelampung ini. Jaket ini harus berwarna oranye dan memiliki sticker reflective untuk meningkatkan visibilitas. Ban Pelampung Lifebuoys Ban pelampung atau lifebuoys ini merupakan ban penyelamat yang dilengkapi dengan tali panjang. Ban ini akan dilemparkan ke laut saat ada pekerja atau penumpang yang berada dalam kondisi darurat. Sama seperti jaket pelampung, ban ini juga harus berwarna oranye untuk meningkatkan visibilitas. Helm Safety Helm safety juga merupakan peralatan K3 yang wajib digunakan saat bekerja di atas kapal. Fungsi helm safety ini adalah untuk melindungi pekerja dari kejatuhan benda dan juga cuaca ekstrim. Dengan menggunakan helm safety, tentunya keselamatan pekerja akan lebih terjamin. Baju Pelindung Baju pelindung menjadi alat pelindung diri K3 selanjutnya yang perlu digunakan. Baju ini bisa berupa baju wearpack bagi pekerja di atas kapal. Baju wearpack berfungsi untuk melindungi pekerja dari cairan berbahaya atau minyak saat bekerja. Sarung Tangan Safety Alat pelindung diri K3 selanjutnya yang harus ada adalah sarung tangan safety. Seperti yang Anda juga tahu bahwa beberapa pekerjaan di atas kapal adalah pekerjaan berat. Dengan begitu, keselamatan tangan juga harus diperhatikan agar terhindar dari luka sayatan atau tusukan. Sepatu Safety Alat pelindung diri K3 yang terakhir adalah sepatu safety. Biasanya sepatu safety yang digunakan untuk pekerja diatas kapal adalah sepatu boot. Alasan menggunakan sepatu boot adalah resistensi terhadap air. Dengan menggunakan sepatu safety, pekerjaan akan lebih mudah dan lebih aman untuk dilakukan. Isyarat Visual Pyrotechnis Isyarat visual adalah isyarat yang digunakan untuk memberi tanda kepada kapal penolong saat keadaan darurat. Isyarat ini bisa berupa smoke signal dan hanya efektif untuk di siang hari, karena tidak memancarkan cahaya. Sekoci Penyelamat Sekoci penyelamat adalah kapal evakuasi kecil yang dapat digunakan saat keadaan darurat. Kapal kecil ini memiliki kapasitas kecil untuk beberapa orang dan terdapat perlengkapan keselamatan didalamnya. Sekoci ini harus ditempatkan di area yang mudah dijangkau sehingga dapat meluncur dengan cepat saat akan digunakan. Rakit Penolong Rakit penolong terdiri dari 2 tipe, rakit kaku dan rakit tiup. Tipe kedua dapat digunakan saat sekoci penyelamat tidak berhasil diturunkan. Sekarang ini, rakit penolong dirancang sedemikian rupa agar lebih mudah digunakan. Rakit tersebut biasanya berbentuk kapsul yang dilengkapi dengan tali panjang. Cara penggunaannya adalah dengan menarik tali tersebut sesaat setelah kapsul di lempar ke laut, lalu rakit akan secara otomatis menggembung. Line Throwing Apparatus Alat keselamatan kerja di atas kapal yang terakhir adalah line throwing apparatus. Alat ini berfungsi sebagai penghubung antara rakit penolong atau sekoci dengan kapal penyelamat. Alat pelempar ini harus memiliki kemampuan melempar hingga 230 meter. Nah itu tadi beberapa alat keselamatan kerja yang harus ada saat di atas kapal. Beberapa peralatan K3 yang telah disebutkan tadi juga kami jual loh. Langsung saja hubungi Safety World, toko alat safety terbaik yang akan menyediakan kebutuhan APD Anda!

GambarGambar Simbol Keselamatan Kerja Di Laut - 17 images - alat alat keselamatan kerja di laboratorium fisika info seputar kerjaan, simbol simbol keselamatan di makmal komputer forum malaikat komputer, sketsa gambar kapal tanker sobsketsa, contoh artikel kesehatan beserta gambar christmas pix,

Aktivitas nelayan di laut memiliki risiko yang tinggi karena kapal penangkap ikan beroperasi mulai dari perairan yang tenang hingga perairan dengan gelombang yang sangat besar. Masalah keselamatan kerja di laut dan keselamatan kapal untuk saat ini tidak hanya menjadi perhatian pemerintah Indonesia saja, namun telah menjadi perhatian dunia. Armada penangkapan ikan di pangkalan pendaratan ikan PPI Batukaras didominasi oleh armada penangkapan skala kecil. Data statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis tahun 2011 menunjukkan bahwa jumlah armada tangkap yang ada di PPI Batukaras adalah sebanyak 281 unit dan semua armada berjenis motor tempel ukuran 5-10 GT 0 0 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 Tabel 1 Data perkembangan armada penangkapan ikan kecamatan cijulang tahun 2005–2011 40 ALBACORE I 1, Februari 2017 peralatan keselamatan yang seharusnya dibawa. Alat komunikasi yang digunakan berupa telepon genggam karena jarak melaut yang relatif dekat, maksimal 5 mil laut dan sinyal telepon genggam masih menjangkau daerah penangkapan ikan tersebut. Kecelakaan yang pernah terjadi di lapangan didominasi oleh kapal tenggelam, terbalik, hanyut, serta kecelakaan kerja. Kejadian kebakaran dan tubrukan sangat jarang terjadi. Kecelakaan kerja yang biasa terjadi adalah nelayan terbelit oleh jaring sehingga tangan terluka terkena mata pancing, hal tersebut dikarenakan kurang hati-hatinya korban ketika melakukan operasi penangkapan ikan. Penanganannya dilakukan dengan pertolongan pertama pada kecelakaan namun tidak diobati dengan alat P3K hanya dibersihkan dengan air dan luka dibalut dengan kain seadanya. Menurut penuturan nelayan, apabila terjadi kecelakaan yang menyebabkan perahu terbalik atau tenggelam, nelayan hanya mengandalkan jerigan sebagai pelampung atau menggunakan katir yang seyogyanya digunakan sebagai alat pe-nyeimbang perahu. Kartu anggota Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia HNSI merupakan sebuah jaminan yang pasti bagi para nelayan apabila terjadi kecelakaan perahu yang mereka tumpangi hanyut. Nelayan di PPI Batukaras dominan menggunakan kapal kecil dengan ukuran <7 GT. Jumlah awak kapal pada kapal tersebut 2 orang, dengan pembagian kerja di kapal sebagai tekong dan ABK. Pembagian kerja pada perikanan skala kecil ini tidak terlalu terlihat karena keduanya memiliki tugas yang sama di kapal dalam operasi penangkapan ikan, namun untuk tekong, tanggung jawab yang dibebankan adalah navigasi serta mesin kapal, namun ketika dilakukan operasi penangkapan ikan, tekong dan ABK bekerja sama. Terkadang tekong dan ABK hanyalah panggilan sebagai pembeda antara pemilik kapal dan anak buahnya. Dalam menciptakan keselamatan kerja tentunya harus didukung oleh keterampilan dan pengetahuan yang wajib dimiliki orang-orang yang terkait di dalamnya. Pada Gambar 1 disampaikan hasil kuesioner terhadap nelayan PPI Batukaras mengenai pengetahuan tentang keselamatan kerja, pengetahuan mengenai aturan keselamatan kerja, pengetahuan akan pentingnya prosedur kerja Gambar 1 Hasil wawancara nelayan terkait pengetahuan dan kesadaran terkait keselamatan kerja Sumber Hasil Wawancara Nelayan diolah Ryan Suryadi Putra et al. –Pengelolaan Keselamatan Kerja Nelayan... 41 di atas kapal, dan kesadaran nelayan akan keselamatan kerja. Dari Gambar 1 terlihat bahwa nelayan yang memiliki pengetahuan mengenai keselamatan kerja sangat minim, 20% nelayan sedikit mengetahui tentang keselamatan kerja dan 80% tidak mengetahui mengenai keselamatan kerja. Aturan terkait keselamatan kerja yang diketahui nelayan sangat minim, 96% diantaranya tidak mengetahui bahwa ada aturan mengenai keselamatan kerja. Nelayan hanya mengetahui keselamatan kerja tergantung pribadi masing-masing orang yang menjalaninya saja, apabila cuaca baik maka nelayan akan melaut namun apabila cuaca buruk nelayan tidak akan melaut. 4% dari nelayan sedikit mengetahui aturan seputar keselamatan kerja. Nelayan hanya sebatas mengetahui adanya aturan namun tidak dapat menyebutkan aturan yang berlaku. Pengaplikasian secara tidak sengaja oleh nelayan adalah dengan menggunakan jerigen atau katir yang digunakan sebagai pelampung apabila terjadi kecelakaan kapal yang membuat kapal tenggelam. Kesadaran nelayan akan keselamatan kerja seharusnya didukung oleh kompetensi yang memadai. Menurut IMO 2007, Nakhoda kapal kecil harus memiliki kompetensi kerja yang memadai dalam mengoperasikan kapal secara aman dan selamat, mengelola kapal dengan baik secara terus menerus, meliputi 1. Pengoperasian dan perawatan mesin; 2. Menangani keadaan darurat dan menggunakan radio komunikasi untuk meminta pertolongan; 3. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan P3K; 4. Mengolah gerak kapal di laut, di pelabuhan dan selama operasi penangkapan; 5. Navigasi; 6. Kondisi cuaca dan ramalan cuaca; 7. Stabilitas kapal; 8. Penggunaan sistem signal; 9. Pencegahan kecelakaan; 10. Peraturan Pencegahan Tubrukan di Laut; 11. Memahami dan meminimalkan risiko operasi penangkapan ikan. Fakta yang ada di lapangan, human error dapat menjadi pemicu terjadinya kecelakaan kerja. Kompetensi nelayan yang ditemukan di lapangan sangat minim, bertolak belakang dengan standar kompetensi yang direkomendasikan oleh IMO dalam meng-operasikan kapal secara aman dan selamat. Hanya kompetensi dalam perawatan mesin dan kondisi cuaca dan ramalan cuaca yang rata-rata dimiliki oleh nelayan di PPI Batukaras. Hal tersebut cukup membuktikan bahwa kesadaran akan keselamatan kerja tinggi namun pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki minim. Gambar 2 Siklus manajemen keamanan laut Danielsson 2010 Sumber Danielsson 2010 42 ALBACORE I 1, Februari 2017 Instansi Pengelola Keselamatan Kerja Nelayan Menurut Danielsson 2010 diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan terhadap peningkatan keamanan bagi nelayan. Pengelolaan tersebut dapat diilustrasikan dalam siklus manajemen keselamatan laut yang tertera pada gambar 2. Siklus ini bertujuan untuk memberikan informasi sistem pelaporan kecelakaan di laut untuk dimasukan ke dalam sistem manajemen keselamatan dalam rangka meningkatkan keamanan bagi nelayan. Hal ini juga mencerminkan pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan semua pengambil kebijakan. Keamanan pada siklus manajemen laut ditandai dengan perbaikan sistem yang berkelanjutan untuk keselamatan nelayan. Hasil identifikasi peran pengelolaan keselamatan kerja nelayan didapatkan dari analisis kebijakan kelembagaan yang meliputi manfaat, implementasi, dan kendala/ kelemahan dari kebijakan yang ada. Analisis kelembagaan dilakukan dengan mengevaluasi keberadaan dan peran yang dilakukan oleh kelembagaan tersebut berkaitan dengan keselamatan kerja nelayan di laut. Gambar 3 menjelaskan mengenai siklus manajemen keamanan laut di PPI Batukaras. Terdapat empat kategori dalam siklus ini, yakni mitigasi dan persiapan yang termasuk dalam langkah proaktif serta bantuan dan rehabilitasi yang termasuk dalam langkah reaktif. Bila dibandingkan antara kondisi yang terjadi di lapangan dengan literatur, kategori yang terlaksana di lapangan adalah kategori persiapan dan bantuan namun pada kategori persiapan tidak semua aspek terlaksana. Persiapan merupakan kategori pertama yang terlaksana. Pada kategori ini aspek yang terlaksana adalah alat tangkap, stabilitas kapal, dan pengoperasian kapal. Ketiga aspek yang terlaksana merupakan kegiatan yang sudah biasa nelayan lakukan sebelum melakukan operasi penangkapan ikan. Alat tangkap dipersiapkan agar aktivitas penangkapan dapat dilakukan dengan baik, kerusakan yang terdapat pada alat tangkap selalu diperbaiki agar mendapatkan hasil tangkapan yang optimal. Dalam hal pengoperasian kapal selalu dilakukan persiapan dengan cara memeriksa mesin tempel yang akan digunakan serta membawa cadangan bahan bakar. Selanjutnya pada aspek stabilitas kapal dipersiapkan dengan memasang alat penyeimbang tambahan pada kapal yang disebut dengan katir. Bantuan merupakan kategori kedua yang terlaksana. Penyelamatan diri dilakukan ketika terjadi kecelakaan, dilakukan oleh korban dengan mempertahankan diri agar tidak tenggelam menggunakan jerigen atau katir sebagai pelampung. Aspek selanjutnya yang terlaksana adalah pencarian dan penyelamatan sukarela yang dilakukan oleh rekan sesama nelayan namun ketika aspek tersebut tidak berhasil menyelamatkan korban maka tim SAR melaksanakan tugasnya untuk mencari dan menyelamatkan korban ke-celakaan. Gambar 3 Siklus manajemen keamanan laut PPI Batukaras Ryan Suryadi Putra et al. –Pengelolaan Keselamatan Kerja Nelayan... 43 Pada Gambar 4 digambarkan mengenai pihak yang bertanggung jawab apabila terjadi kecelakaan di kapal, penanganan yang dilakukan, serta peran pemerintah dalam sosialisasi mengenai keselamatan kerja. Koordinasi yang terlihat di PPI Batukaras adalah koordinasi antara KUD, rukun nelayan, dan polisi perairan. Tidak terlihat instansi lain yang seharusnya terlibat dalam kesehatan dan keselamatan kerja nelayan. Hal tersebut bertolak belakang dengan pasal 31 ayat 4 yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor tentang Kepelabuhanan Perikanan, yakni instansi/unit kerja terkait di pelabuhan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat 3 terdiri dari 1. Pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota; 2. TNI/POLRI; 3. Imigrasi; 4. Bea dan Cukai; 5. Kesehatan Pelabuhan; 6. Perhubungan Laut; 7. Pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan; 8. Pengolahan dan pemasaran hasil perikanan; 9. Penelitian dan pengembangan kelautan dan perikanan; 10. Pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanan; 11. Karantina ikan; 12. BUMN dan/atau BUMD; dan/atau 13. Instansi terkait lainnya. Kecelakaan kapal berupa kapal terbalik, hanyut, dan tenggelam merupakan kecelakaan fatal yang sering terjadi di lapangan. Penanganan yang dilakukan untuk ketiga kecelakaan tersebut adalah dengan menindak-lanjuti di lapangan, yaitu apabila ada nelayan lain yang posisinya dekat dengan tempat kejadian perkara TKP maka nelayan tersebut Gambar 4 Peran instansi pemerintahan & organisasi nelayan serta penanganan ketika terjadi kecelakaan kerja Sumber Wawancara Nelayan PPI Batukaras diolah Tabel 2 Peraturan nasional yang berhubungan dengan keselamatan kerja nelayan Sumber Purwangka 2013, diolah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 UU ini mengatur tentang pelayaran Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Tentang Kepelabuhanan Perikanan 44 ALBACORE I 1, Februari 2017 menolong korban, namun jika tidak ada nelayan lain di sekitar TKP akan dilakukan pencarian oleh tim SAR yang merupakan anggota rukun nelayan yang dibentuk oleh KUD setempat serta bantuan dari polisi perairan apabila dibutuhkan. Faktor yang mempengaruhi kecelakaan fatal tersebut merupakan faktor cuaca. Nelayan hanya mengandalkan prediksi cuaca secara tradisional dengan cara melihat tanda-tanda alam dengan melihat langit. Peran syahbandar sebagai lembaga yang memiliki tugas dalam mengatur kedatangan dan keberangkatan nelayan belum terlihat padahal menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor tentang Kepelabuhanan Perikanan pasal 30 ayat 1 point a dijelaskan bahwa syahbandar di pelabuhan perikanan mempunyai tugas dan wewenang mengatur kedatangan dan keberangkatan kapal per-ikanan. Upaya dalam pencarian korban ketika terjadi kecelakaan kapal dilakukan, tidak terlihat partisipasi syahbandar. Implementasi dari Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor /Men/2012 tentang Kepelabuhanan Perikanan pasal 30 ayat 1 point k yang menyebutkan bahwa syahbandar di pelabuhan perikanan mempunyai tugas dan wewenang untuk melaksanakan bantuan pencarian dan ke-selamatan tidak terlihat justru yang terjadi di lapangan pihak yang terlibat adalah KUD, dan rukun nelayan. Polisi perairan datang ke lokasi apabila ada laporan dari nelayan. Melihat kondisi tersebut sebaiknya wewenang tersebut diserahkan kepada KUD atau organisasi rukun nelayan setempat mengingat penuturan dari kepala Syahbandar Pangandaran yang menjelaskan bahwa untuk kapal <7 GT wewenangnya telah diserahkan pada unit pelaksana teknis daerah namun pengelolaan-nya masih belum optimal. Kebijakan-kebijakan yang ada mengenai pelayaran dan keselamatan belum menyentuh sektor perikanan skala kecil. Belum adanya regulasi yang mengatur keselamatan kapal yang berukuran <7 GT menyebabkan im-plementasi dari kebijakan yang ada sulit dilaksanakan. Tabel 3 menunjukkan bahwa regulasi nasional keselamatan kerja nelayan belum sepenuhnya menyentuh sektor perikanan skala kecil. Beberapa catatan dari isi naskah pada Tabel 3 menjelaskan bahwa regulasi berlaku umum namun fakta di lapangan tidak terlihat implementasi yang dilakukan dan keadaan bertolak belakang dengan regulasi yang ada. Tumpang tindih aturan dan kebijakan yang terjadi disebabkan kurangnya koordinasi dan komunikasi antar instansi yang berwenang sehingga implementasi tidak efektif. Terjadi tumpang tindih aturan dan kepentingan fungsi syahbandar dan direktorat kepolisian perairan Ditpolair dalam pemberian bantuan pencarian dan keselamatan SAR di laut/perairan. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor tentang Ke-pelabuhanan Perikanan pasal 30 ayat 1 point k yang menyebutkan bahwa syahbandar di pelabuhan perikanan mempunyai tugas dan wewenang untuk melaksanakan bantuan pencarian dan keselamatan, dan Peraturan Kapolri Nomor 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Daerah pasal 202 ayat 3 point c menyatakan hal yang serupa yaitu Ditpolair menyelenggarakan fungsi pemberian bantuan SAR di laut/perairan. Jika kedua instansi berkoordinasi dengan baik, fungsi dan wewenang yang dimiliki oleh kedua instansi dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Dampak wewenang pencarian dan ke-selamatan SAR yang tidak terlaksana diminimalisir dengan adanya tim SAR sukarela dari KUD. Tim SAR tersebut menjadi bantuan yang sangat berpengaruh dalam usaha menyelamatkan nelayan dalam kondisi yang berbahaya. Ryan Suryadi Putra et al. –Pengelolaan Keselamatan Kerja Nelayan... 45 KESIMPULAN Pengetahuan nelayan di PPI Batukaras seputar keselamatan kerja sangat minim, nelayan tidak mengetahui adanya peraturan mengenai keselamatan kerja serta tidak mengetahui prosedur bekerja di atas kapal namun kesadaran akan keselamatan kerja sangat tinggi. Selain itu, Pengelolaan keselamatan kerja di PPI Batukaras belum terlaksana dengan baik, kebijakan tidak diimplementasikan oleh instansi yang berwenang. Pelaksanaan pengelolaan keselamatan kerja sifatnya insidental dilakukan oleh pihak KUD dan rukun nelayan. DAFTAR PUSTAKA [BAKORKAMLA] Badan Koordinasi Keamanan Laut. 2009. Pedoman Khusus Keselamatan dan Keamanan Pelayaran. Jakarta ID BAKORKAMLA. Danielsson. 2010. Safety At Sea For Small-Scale Fisheries In Developing Countries. Rome IT Food And Agriculture Organization FAO. Tabel 3 Regulasi nasional keselamatan kerja nelayan Sumber Purwangka 2013, diolah Keselamatan kapal perikanan Tidak termasuk kapal < 12 m Panduan prosedur keselamatan kapal Tidak termasuk kapal < 12 m Persyaratan desain, konstruksi dan peralatannya distressed signal, alat komunikasi Tidak termasuk kapal < 12 m, berlaku Umum, terjadi tumpang tindih aturan Panduan desain, konstruksi dan peralatannya Tidak termasuk kapal < 12 m Keselamatan saat berlayar mengemudi, lampu navigasi, dan alat lainnya SAR untuk pelayaran dan kecelakaan Berlaku umum, tumpang tindih kepentingan Keselamatan kerja nelayan Tidak termasuk kapal < 12 m Standar kesehatan nelayan Persyaratan keterampilan dan tugas nelayan Tidak ada penerapan dan pengawasan pada kapal berukuran kecil Pedoman pelatihan nelayan Pelatihan kejuruan nelayan Berlaku umum, tidak termasuk kapal berukuran < 12 m Tanggung jawab pemerintah terhadap keselamatan dan kesehatan nelayan Berlaku umum, tumpang tindih kepentingan, tidak valid, minim Pengelolaan organisasi dan fungsi Berlaku umum, tumpang tindih kepentingan Penindakan pelanggaran pada keselamatan kerja nelayan Berlaku umum, keterbatasan alat dan personil 46 ALBACORE I 1, Februari 2017 [Depnakertrans] Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 1996. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor Per. 05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta ID Depnakertrans. [DKP Kabupaten Ciamis] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis. 2011. Laporan Statistik Perikanan Tangkap dan Budidaya Kabupaten Ciamis. Ciamis ID DKP Kabupaten Ciamis. [IMO] International Maritime Organization. 1960. International Convention for the Safety of Life at Sea. London EN International Maritime Organization IMO. [IMO] International Maritime Organization. 2007. Any Other Business. Outcome of SLF 50. STW 39/11/1. Sub Committee on Standard of Training and Watchkeeping. 39 th Session. London EN International Maritime Organization IMO. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2012. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor tentang Kepelabuhanan Perikanan. Jakarta ID KKP. [POLRI] Kepolisian Republik Indonesia. 2010. Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian ID POLRI. Pemerintah Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Jakarta ID Sekretariat Negara. Pemerintah Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran. Jakarta ID Sekretariat Negara. PT. Trans Asia Consultans. 2009. Kajian Analisis Trend Kecelakaan Transportasi Laut Tahun 2003 – 2008. Jakarta ID. Purwangka F. 2013. Keselamatan kerja nelayan pada operasi penangkapan ikan menggunakan payang di Palabuhanratu, Jawa Barat [disertasi]. Bogor ID Institut Pertanian Bogor. Sumadi Suryabrata. 1983. Metodologi Penelitian. Jakarta ID CV. Rajawali. ... Aktivitas nelayan di laut memiliki resiko yang tinggi karena kapal penangkap ikan beroperasi mulai dari perairan yang tenang hingga perairan dengan gelombang yang sangat besar. Faktor keselamatan kapal maupun nelayan merupakan hal yang perlu diperhatikan demi kesuksesan suatu operasi penangkapan ikan Putra et al., 2017. Penyebab kecelakaan fatal awak kapal dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran awak kapal tentang keselamatan kerja pada pelayaran dan kegiatan penangkapan, rendahnya penguasaan kompetensi keselamatan pelayaran dan penangkapan ikan, kapal tidak dilengkapi peralatan keselamatan sebagaimana seharusnya, cuaca buruk seperti gelombang besar dan menderita sakit keras dalam pelayaran Suwardjo et al., 2010. ...Persepsi awak kapal untuk mencegah kecelakaan memerlukan perhatian lebih serius melalui pengaturan minimum pengetahuan dan keterampilan awak kapal penangkap ikan, standar kapal penangkap ikan, standar alat tangkap ikan, standar pengawakan kapal penangkap ikan, dan standar ketenagakerjaan kapal penangkap ikan. Sistem pembagian kerja kapal perlu adanya proses untuk menempatkan seseorang sesuai dengan kompetensinya. Kerja sama yang diperlukan dalam pengoperasian alat tangkap purse seine ditentukan dengan adanya pembagian tugas masing-masing berdasarkan kemampuan dalam bidangnya masing-masing. Maka dari itu perlu adanya persepsi ABK terhadap penerapan K3 di atas kapal untuk mencegah kecelakaan saat bekerja. Struktur organisasi di atas kapal KM. Sinar Bayu Utama terdiri dari nakhoda, kkm, kepala kerja 1, kepala kerja 2, kepala kerja 3, wakil kepala kamar mesin, dan abk kapal. Persepsi abk kapal KM. Sinar Bayu Utama meliputi tentang prosedur kerja, alat- alat keselamatan, dan penerapan Haryadi Kundori KundoriKejadian kecelakaan kapal penangkap ikan adalah suatu permasalahan yang sangat kompleks yaitu berupa apa faktor manusia yang disebabkan oleh nakhoda dan anak buah kapal faktor mesin berupa kapal dan peralatan keselamatan dan dan faktor alam berupa cuaca dan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan. Metode yang digunakan dalam kegiatan pelatihan ini adalah melalui pendekatan penyuluhan dan penyampaian materi selanjutnya dengan mempraktikkan penggunaan alat keselamatan yang ada di kapal. Strategi penyuluhan dapat dilakukan dengan cara ceramah, kegiatan praktikum yaitu peserta diajari mempraktikkan cara menggunakan alat keselamatan yang ada di kapal yaitu life saving appliances berupa life jaket, life buoy, thermal protective aid, Metode lainnya yang digunakan adalah dengan cara diskusi ataupun bertanya jawab. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. manajemen yang digunakan adalah dengan cara identifying, planning, organizing dan acting. Tahapan perencanaan dan pengorganisasian dilakukan agar kegiatan berjalan dengan tepat sasaran, efektif, efisien, tahap selanjutnya implementasi dan aksi di lapangan berupa penyuluhan keselamatan bagi para nelayan. dampak dari kegiatan dievaluasi selama dan sesudah pelaksanaan kegiatan. Gambaran dampak dari kegiatan bersiafat deskriptif kualitatif berupa hal yang dapat dilihat dan dirasakan oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan. kegiatan pelatihan Basic Safety Training BST telah dilaksanakan dan berjalan dengan lancar baik dari proses penyampaian materi, proses pelatihan, proses diskusi dan evaluasi. Masyarakat nelayan dapat memahami berbagai jenis alat keselamatan dan pentingnya penggunaan alat-alat keselamatan sesuai dengan penjelasan dari pemateri sehingga diharapkan dapat diterapkan saat bekerja di kapal nelayan. Perlunya pelatihan lanjutan yang berhubungan dengan basic safety training BST mengenai pengenalan dan penggunaan alat pemadam kebakaranPeraturan Menteri Tenaga Kerja nomor Per. 05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan KerjaDepartemen Tenaga Kerja Dan TransmigrasiDepartemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 1996. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor Per. 05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta ID Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor tentang Kepelabuhanan PerikananKementerian Kelautan Dan PerikananKementerian Kelautan dan Perikanan. 2012. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor tentang Kepelabuhanan Perikanan. Jakarta ID Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian DaerahKepolisian Republik IndonesiaKepolisian Republik Indonesia. 2010. Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Daerah. Jakarta ID Republik Indonesia Nomor 31 TahunPemerintah Republik IndonesiaPemerintah Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Jakarta ID Sekretariat Republik Indonesia Nomor 17 TahunPemerintah Republik IndonesiaPemerintah Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran. Jakarta ID Sekretariat Analisis Trend Kecelakaan Transportasi Laut TahunPt. Trans AsiaConsultansPT. Trans Asia Consultans. 2009. Kajian Analisis Trend Kecelakaan Transportasi Laut Tahun 2003 -2008. Jakarta ID.Keselamatan kerja nelayan pada operasi penangkapan ikan menggunakan payang di PalabuhanratuF PurwangkaPurwangka F. 2013. Keselamatan kerja nelayan pada operasi penangkapan ikan menggunakan payang di Palabuhanratu, Jawa Barat [disertasi].Sumadi SuryabrataSumadi Suryabrata. 1983. Metodologi Penelitian. Jakarta ID CV. Statistik Perikanan Tangkap dan Budidaya Kabupaten CiamisKabupaten CiamisKabupaten Ciamis] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis. 2011. Laporan Statistik Perikanan Tangkap dan Budidaya Kabupaten Ciamis. Ciamis ID DKP Kabupaten Ciamis.
Berikutada 8 alat keselamatan yang perlu disediakan untuk melindungi para pekerja kapal laut: 1. Life Boat Tentunya di setiap kapal laut musti disiapkan sekoci / life boat dalam jumlah yang cukup. Sekoci adalah perahu kecil yang akan dipergunakan apabila kondisi memburuk dimana kapal akan tenggelam.
Bekerja di kapal perikanan memiliki tingkat resiko yang tinggi sehingga rawan menimbulkan kecelakaan kerja. Seringkali terjadi kecelakaan pada kapal perikanan yang disebabkan oleh human error yang mengakibatkan korban jiwa. sehingga diperlukan penelitan terkait implementasi K3 pada kapal perikanan. Tujuan penelitian adalah agar mengetahui penerapan K3 di KM. Berkah Melimpah 2 dan mengetahui alat K3 pada KM. Berkah Melimpah 2. Lokasi penelitian dilakukan di kapal penampung ikan yang dilakukan pada bulan Maret-Juni 2022. Metode penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif. Hasil penelitian ini ABK KM. Berkah Melimpah belum menerapkan budaya safety dengan maksimal, hal ini disebabkan ABK tidak menggunakan baju safety saat melakukan aktifitas bongkar muat ikan, tidak ada pembagian dinas jaga dek dan dinas jaga mesin kepada ABK dan kebiasaan dari ABK yang tidak mengindahkan kebersihan dan kesehatan saat melakukan kegiatan pelayaran di kapal serta kebiasaan ABK yang mengkonsumsi alkohol pada saat kapal melakukan pelayaran. KM. Berkah Melimpah 2 tidak menyediakan helm, baju dingin, baju kerja dan jas hujan kepada ABK yang melakukan aktifitas di atas kapal pada saat kapal sedang berlayar. Adapun alat keselamatan yang disediakan oleh KM. Berkah Melimpah 2 adalah APAR 8 tabung, fire extinguisher ball 11 bola, lifejacket 24 buah, Obat P3K, hand safety 72 pasang, ringbuoy 2 buah, sepatu boots 24 pasang, radio komunikaasi dan AIS. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Bahari Papadak, Edisi Oktober 2022, Vollume 3 Nomor 2 E-ISSN 2723-6536 ©Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Idrus dkk., 2022 112-120 Article Info Received 23-08-2022 Accepted 16-09-2022 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA K3 KAPAL PENAMPUNG IKAN KM. BERKAH MELIMPAH 2 DI PPS NIZAM ZACHMAN JAKARTA Muhamad Amril Idrus1, Febi Luthfiani2, I Made Aditya Nugraha3, Irandha C. M. Siahaan4, dan Febryan Arya Putra5 1,2,3,5 Prodi. Mekanisasi Perikanan, Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang, Indonesia 4Prodi. Teknik Penangkapan Ikan Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang, Indonesia Email Korespondensi muhamadamrilidrus Abstrak - Bekerja di kapal perikanan memiliki tingkat resiko yang tinggi sehingga rawan menimbulkan kecelakaan kerja. Seringkali terjadi kecelakaan pada kapal perikanan yang disebabkan oleh human error yang mengakibatkan korban jiwa. sehingga diperlukan penelitan terkait implementasi K3 pada kapal perikanan. Tujuan penelitian adalah agar mengetahui penerapan K3 di KM. Berkah Melimpah 2 dan mengetahui alat K3 pada KM. Berkah Melimpah 2. Lokasi penelitian dilakukan di kapal penampung ikan yang dilakukan pada bulan Maret-Juni 2022. Metode penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif. Hasil penelitian ini ABK KM. Berkah Melimpah belum menerapkan budaya safety dengan maksimal, hal ini disebabkan ABK tidak menggunakan baju safety saat melakukan aktifitas bongkar muat ikan, tidak ada pembagian dinas jaga dek dan dinas jaga mesin kepada ABK dan kebiasaan dari ABK yang tidak mengindahkan kebersihan dan kesehatan saat melakukan kegiatan pelayaran di kapal serta kebiasaan ABK yang mengkonsumsi alkohol pada saat kapal melakukan pelayaran. KM. Berkah Melimpah 2 tidak menyediakan helm, baju dingin, baju kerja dan jas hujan kepada ABK yang melakukan aktifitas di atas kapal pada saat kapal sedang berlayar. Adapun alat keselamatan yang disediakan oleh KM. Berkah Melimpah 2 adalah APAR 8 tabung, fire extinguisher ball 11 bola, lifejacket 24 buah, Obat P3K, hand safety 72 pasang, ringbuoy 2 buah, sepatu boots 24 pasang, radio komunikaasi dan AIS. Kata Kunci K3, Safety dan KM. Berkah Melimpah 2 I. PENDAHULUAN Penyebab kecelakaan pada kapal perikanan, yaitu rendahnya kesadaran Anak Buah Kapal ABK tentang keselamatan kerja pada pelayaran dan kegiatan penangkapan, rendahnya penguasaan kompetensi keselamatan pelayaran dan penangkapan ikan serta kapal tidak dilengkapi peralatan keselamatan sebagaimana seharusnya. Cuaca buruk seperti gelombang besar serta kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan peralatan keselamatan kerja memberikan resiko terhadap keselamatan ABK Imron, 2017. Keselamatan dan kesehatan kerja K3 di kapal menjadi perhatian pemerintah dan pebisnis sejak lama. Faktor K3 terkait erat dengan kinerja ABK, semakin banyak fasilitas keselamatan kerja, semakin sedikit kemungkinan kecelakaan kerja. Untuk meningkatkan kesadaran implementasi K3 kapal perikanan maka diperlukan strategi diantaranya dengan melakukan pelatihan K3 untuk ABK, memberikan jaminan ketenagakerjaan ABK, melengkapi keselamatan, memperbaharui alat keselamatan serta memperbaiki kondisi kapal dan melaksanakan prosedur kerja bersatandar K3 di atas kapal Prasetyono, 2020. Kapal penangkap ikan dikaitkan dengan bidang pekerjaannya yang sangat dinamis dan berisiko tinggi sehingga mengharuskan kapal memiliki stabilitas yang baik. Hasil penelitian diberbagai negara, penyebab kecelakaan pada kapal penangkap ikan yang terjadi di negara maju sekalipun adalah faktor manusia human error. Faktor manusia tersebut berhubungan dengan kurangnya kesadaran, keahlian dan keterampilan awak kapal dalam memahami aspek keselamatan pelayaran dan penangkapan ikan. Berkaitan dengan hal ini perlu pertimbangan bagi awak kapal yang terlibat dalam operasional penangkapan ikan sebelum ikut berlayar, seperti awak kapal harus berkecukupan dalam pendidikan dan pelatihan keahlian Certificate of Competency dan keterampilan Certificate of Proficiency serta memiliki kompetensi sesuai dengan aturan yang berlaku. Selain itu juga harus memahami kondisi yang disepakati dalam perjanjian kerja, prosedur dan sistem kerja di kapal penangkap ikan Suwardjo, 2010. Permenkp Nomor 58 Tahun 2021 Tantang Sertifikasi Maritime Labour Convention Pasal 39- Jurnal Bahari Papadak, Edisi Oktober 2022, Vollume 3 Nomor 2 E-ISSN 2723-6536 ©Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Idrus dkk., 2022 112-120 Article Info Received 23-08-2022 Accepted 16-09-2022 40 menyatakan kesehatan dan keselamatan serta pencegahan kecelakaan terdiri atas kesehatan dan keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan kerja. Pemiliki kapal atau operator kapal harus menjamin kesehatan dan keselamatan dari ABK serta harus mengantisipasi pencegahan kecelakaan kerja, cedera, dan penyakit serta untuk perbaikan yang berkelanjutan dalam perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja yang dapat menimpa ABK. Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis akan melakukan penelitian “Keselamatan dan Kesehatan Kerja K3 Kapal Penampung Ikan KM. Berkah Melimpah 2 di Pelabuhan Perikanan Samudera PPS Nizam Zachman Jakarta”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan K3 di KM. Berkah Melimpah 2 dan mengetahui implementasi Permenkp Nomor 42 Tahun 2016 Tentang Perjanjian Kerja Laut Bagi Awak kapal Perikanan AKP pada Pasal 18 terkait alat dan bahan K3 KM. Berkah Melimpah 2. II. METODE PENELITIAN Sumber data penelitian ini berasal dari dokumen dan hasil pengamatan dan aktifitas yang dilakukan di Kapal KM. Berkah Melimpah 2, logbook kegiatan harian, foto dokumentasi, catatan dan dokumen resmi lainnya. Adapun metode pengumpulan data adalah dengan melakukan pengamatan langsung kepada ABK sehingga data yang dikumpulkan benar sesuai dengan kenyataan pada saat penelitian berlangsung. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi dan studi literatur terkiat K3 kapal perikanan. Pengambilan data dilakukan di kapal KM. Berkah Melimpah 2 yang dimulai pada bulan Maret 2022 - Juli 2022. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, metode penelitian deskriptif adalah metode yang dilakukan untuk mengetahui gambaran, keadaan, suatu hal dengan cara mendeskripsikannya sedetail mungkin berdasarkan fakta yang ada. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelabuhan Perikanan Samudra PPS Nizam Zachman Jakarta PPS Nizam Zachman Jakarta memiliki fasilitas pokok, fasilitas penunjang, dan fasilitas fungsional yang sangat dibutuhkan dalam setiap aktivitas perikanan di pelabuhan. Peran PPS Nizam Zachman sebagai salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia dalam menunjang ketersediaan fasilitas diperlukan oleh setiap stakeholder industri perikanan. PPS Nizam Zachman Jakarta terletak di muara baru, kecamatan penjaringan, jakarta utara. Letak pelabuhan ini berbatasan langsung dengan laut jawa di sebelah utara, pelabuhan sunda kelapa di sebelah timur, Penjaringan di sebelah selatan dan pantai seruni kawasan waduk pluit di sebelah barat. Gambar 1. PPS Nizam Zachman Jakarta Jurnal Bahari Papadak, Edisi Oktober 2022, Vollume 3 Nomor 2 E-ISSN 2723-6536 ©Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Idrus dkk., 2022 112-120 Article Info Received 23-08-2022 Accepted 16-09-2022 Deskripsi Kapal Penampung KM. Berkah Melimpah 2 KM. Berkah Melimpah 2 tergolong dalam kapal perikanan yang bertipe khusus hanya untuk menampung muatan ikan dan tidak melaksanakan operasi penangkapan ikan di laut. KM. Berkah Melimpah 2 merupakan salah satu armada kapal penampung ikan milik PT. Berkah Melimpah Jaya yang berbahan dasar kayu dan di lapisi fibreglass dari bagian luarnya. Gambar 2. KM. Berkah Melimpah 2 Tabel. 1 Data Utama KM. Berkah Melimpah 2 Sunda Kelapa/GT. 197 KM. Berkah Melimpah 2 merupakan kapal penampung ikan berukuran besar dengan diantara kapal penampung ikan yang yang berada dinaungan PT. Berkah Melimpah Jaya, kapal ini memiliki ukuran 197 GT dengan panjang meter, lebar meter, tinggi meter, dengan berbahan dasar kayu dan dilapisi dengan fiberglass. Kapal ini di lengkapi dengan mode autopilot sehingga kapal dapat menuju ke lokasi yang di inginkan tanpa mengemudikan secara manual. Kapal ini memiliki 14 orang ABK dan dibangun di Sunda Kelapa pada tahun 2013. KM. Berkah Melimpah 2 melaksanakan trip berlayar dari fishing base yaitu berada di PPS Nizam Zachman Jakarta menuju ke perairan barat sesuai lokasi pengambilan ikan dari kapal penangkap ikan, ketika muatan sudah penuh kapal ini akan kembali lagi ke PPS Nizam Zachman Jakarta untuk melakukan bongkar muat ikan. Berikut adalah daftar ABK KM. Berkah Melimpah 2 beserta jabatan dan sertifikasi keahlian yang dimiliki Jurnal Bahari Papadak, Edisi Oktober 2022, Vollume 3 Nomor 2 E-ISSN 2723-6536 ©Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Idrus dkk., 2022 112-120 Article Info Received 23-08-2022 Accepted 16-09-2022 Tabel 2. Data Daftar ABK KM. Berkah Melimpah 2 KM. Berkah Melimpah 2 memiliki awak kapal berjumlah 14 orang. Kapal ini dikemudikan oleh nahkoda dengan sertifikasi keahlian Ankapin-III, di bantu juga oleh Mualim 1 dengan sertifikasi SKK 60 Mil, dan seorang KKM dengan sertifikasi Atkapin-III. ABK yang memiliki sertifikasi keterampilan BST sebanyak enam orang, dan sisanya tidak memiliki sertifikat. Gambar 3. Mesin Utama KM. Berkah Melimpah 2 KM. Berkah Melimpah 2 menggunakan mesin utama merk Cummins dengan type KTA 19-M3, dengan nomer seri 25273794. Mesin ini memiliki daya 600 PK, memiliki 6 silinder dan menggunakan bahan bakar minyak BBM solar. Berikut adalah spesifikasi dari mesin utma KM. Berkah Melimpah 2 Tabel 3. Spesifikasi Mesin Utama KM. Berkah Melimpah 2 Jurnal Bahari Papadak, Edisi Oktober 2022, Vollume 3 Nomor 2 E-ISSN 2723-6536 ©Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Idrus dkk., 2022 112-120 Article Info Received 23-08-2022 Accepted 16-09-2022 Implementasi K3 KM. Berkah Melimpah 2 Kegiatan Bongkar Muat Ikan Pada saat melakukan aktivitas kegiatan bongkar dan muat ikan para ABK akan diberikan hand safety berbahan kain warna putih. Setiap ABK akan diberi dua pasang sarung tangan dalam penggunaannya dipakai dua lapis dengan tujuan untuk melindungi tangan dari sirip ikan yang tajam, dan gesekan tali blong saat bekerja. Setelah itu para ABK akan mempersiapkan diri mereka dengan mengganti pakaian menggunakan baju lengan panjang dan celana panjang serta menggunakan sepatu boots yang tersedia di kapal tersebut, guna melindung bagian tubuh dari hawa dingin ketika berada di dalam cold storage serta melindungi kaki para ABK dari kejatuhan blong maupun ikan sehingga memperkecil adanya resiko kecelakaan kerja. Waktu kerja para ABK ketika bongkar muatan di daratan dimulai dari jam pagi sampai dengan sore saat tidak ada lemburan, jika ada lemburan maka akan dilanjutkan dari malam sampai dengan malam tiap harinya hingga muatan di atas kapal benar-benar habis. Berbeda lagi dengan aktivitas muat di tengah laut, jam kerja para ABK tidak menentu tergantung dari jauh dekatnya titik pertemuan kapal dengan kapal penangkap ikan. Sehingga waktu istirahat para ABK tidak menentu tergantung dari seberapa banyak muatan yang dipindahkan dan seberapa lama proses bongkar dan muat ikan dari kapal penangkap ikan. Untuk interval waktu istirahat para ABK masih dalam cakupan peraturan dengan minimal waktu istirahat 10 jam dalam periode waktu 24 jam. Gambar 4. Kegiatan Bongkar Muat Pada KM. Berkah Melimpah 2 Perlengkapan K3 di atas kapal KM. Berkah Melimpah 2 masih kurang memadai dan kurang safety hal ini menyebabkan ABK harus lebih ekstra berhati-hati dalam melakukan aktivitas bongkar dan muat ikan, terlebih lagi para ABK yang mengabaikan persoalan keamanan ABK ketika bekerja, diantaranya adalah tidak menggunakan baju safety saat melakukan aktifitas di kapal, tidak ada pembagian dinas jaga dek dan dinas jaga mesin kepada ABK kapal dan serta kebiasaan dari ABK yang tidak mengindahkan kebersihan dan kesehatan saat melakukan kegiatan pelayaran di kapal. Kemudian rata-rata dari para ABK mengkonsumsi alkohol yang berlebihan, baik pada saat kapal melakukan pelayaran menuju ke lokasi penjemputan ikan maupun perjalanan dari tujuan kembali ke pelabuhan. Dengan menerapkan prilaku sadar terhadap K3 serta tersedianya alat keselamatan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan ABK yang menerapan K3 di atas kapal maka akan mengurasi resiko kecelakaan kerja sehingga ABK dapat bekerja dengan semangat, tenang, bugar, maksimal dan optimal dalam melakukan pekerjaannya. Alat dan Bahan K3 pada KM. Berkah Melimpah 2 Berdasarkan Permenkp Nomor 42 Tahun 2016 Tentang Perjanjian Kerja Laut Bagi Awak kapal Perikanan AKP pada pasal 18 ayat 1 menyatakan pemilik kapal perikanan, operator kapal perikanan, agen awak kapal perikanan, atau Jurnal Bahari Papadak, Edisi Oktober 2022, Vollume 3 Nomor 2 E-ISSN 2723-6536 ©Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Idrus dkk., 2022 112-120 Article Info Received 23-08-2022 Accepted 16-09-2022 nakhoda kapal perikanan wajib menyediakan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja bagi awak kapal perikanan. Dan pada ayat 3 pada pasal yang sama menyatakan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja bagi AKP sebagaimana dimaksud pada ayat 1, meliputi helm, sarung tangan, baju dingin, sepatu boots, baju kerja, jas hujan, pelampung, peralatan pengaman kerja di dek untuk kondisi cuaca buruk dan obat pertolongan pertama pada kecelakaan. Berikut adalah perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja bagi AKP di KM. Berkah Melimpah 2 Tabel 4. Data Alat Keselamatan KM. Berkah Melimpah 2 Alat Pemadam Api Ringan APAR Automatic Identification System AIS Berdasarkan Tabel di atas maka alat keselamatan yang tidak tersedia di KM. Berkah Melimpah 2 adalah helm, baju dingin, baju kerja dan jas hujan. Sedangkan alat keselamatan lainnya telah tersedia. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut Gambar. APAR a, Auto Fire Off Fire Extinguisher Ball b dan Lifejacket c Berbagai alat keselamatan yang tidak tersedia di KM. Berkah Melimpah 2 berdasarkan tampilan gambar di atas dapat dideskripsikan sebagai berikut. 1. APAR APAR yang digunakan pada KM. Berkah Melimpah 2 berjenis serbuk kimia atau Dry Powder Fire Extinguisher dimana serbuk kering kimia yang merupakan kombinasi dari mono-amonium dan ammonium sulphate. Serbuk kering Kimia yang dikeluarkan akan menyelimuti bahan yang terbakar sehingga memisahkan oksigen yang merupakan unsur penting terjadinya kebakaran. APAR Jenis dry chemical powder ini merupakan alat pemadam api yang serbaguna karena efektif untuk memadamkan kebakaran di hampir semua kelas kebakaran seperti Kelas A, B dan C. Kebakaran kelas A merupakan kelas kebakaran yang dikarenakan oleh bahan-bahan padat non-logam, Kebakaran Kelas B merupakan kelas kebakaran yang dikarenakan oleh bahan-bahan cair yang mudah terbakar seperti minyak dan Kebakaran Kelas C merupakan kelas kebakaran yang dikarenakan oleh instalasi listrik yang bertegangan. Pada KM. Berkah Melimpah 2 memiliki total delapan tabung yang peletakannya di bagi pada setiap ruangan, seperti halnya di bagian anjungan terdapat dua tabung, di bagian kamar mesin terdapat empat tabung, di bagian kamar ABK terdapat dua buah tabung APAR. Kebutuhan APAR di KM. Berkah Melimpah 2 telah memenuhi ketentuan peraturan. Jurnal Bahari Papadak, Edisi Oktober 2022, Vollume 3 Nomor 2 E-ISSN 2723-6536 ©Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Idrus dkk., 2022 112-120 Article Info Received 23-08-2022 Accepted 16-09-2022 2. Auto Fire Off Fire Extinguisher Ball Auto fire off fire extinguisher ball adalah alat pemadam kebakaran yang sangat dibutuhkan semua kalangan, cara kerja alat ini sangat mudah karena tinggal dilemparkan ke titik api, ketika mengenai sensor deaktivasi Fire Extinguisher Ball akan meledak secara otomatis 3-5 detik setelah bersentuhan dengan api dengan mengeluarkan bubuk kering sehingga dapat memadamkan api. Pada KM. Berkah Melimpah 2 memilki total 11 fire extinguisher ball yang peletakannya di bagi pada setiap ruangan, seperti halnya di bagian anjungan terdapat dua bola, di bagian kamar nahkoda terdapat dua bola, di bagian ruang mesin terdapat tujuh bola. Kebutuhan fire extinguisher ball di KM. Berkah Melimpah 2 telah memenuhi ketentuan peraturan. 3. Lifejacket Jaket pelampung atau lifejacket adalah sebuah jaket tanpa lengan yang punya fungsi khusus yaitu untuk membuat penggunanya tetap terapung di atas permukaan air pada saat kondisi darurat. Warna jaket ini juga mencolok agar mudah dikenali dan dicari serta dilengkapi dengan peluit untuk memberi sinyal dalam keadaan darurat. Pada KM. Berkah Melimpah 2 memiliki total 24 Lifejacket yang diletakkan di dalam kamar nahkoda sehingga memudahkan pengambilan saat kondisi darurat. Jumlah ABK KM. Berkah Melimpah 2 sebanyak 14 orang dan total lifejacket berjumlah 24 buah, sehingga kebutuhan lifejacket telah dipenuhi. 4. Obat P3K Saat terjadi kecelakaan, korban dapat meninggal seketika, pingsan, luka berat, dan luka ringan. Bagi korban yang masih hidup, tentu memerlukan pertolongan secepatnya. Pertolongan pertama bertujuan untuk memberikan perawatan darurat dan dukungan hidup pada orang yang mengalami cedera atau luka serta mencegah komplikasi lebih lanjut. Oleh karena itu, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan P3K sangatlah diperlukan. Pada KM. Berkah Melimpah 2 membawa total 2 pak P3K, yang di dalamnya berisi obat alergi, obat flu dan batuk, obat sakit kepala, plester luka, obat merah, kain kasa, obat masuk angin, obat pegal pegal. Kebutuhan obat P3K tidak memenuhi ketentuan karena dalam penyimpanannya tidak disimpan di kotak P3K tapi disimpan di kantong pelastik. Obat P3K harus disimpan di dalam kotak P3K agar obat bisa dalam keadaan bersih dan steril. 5. Hand Safety Pelindung tangan ini berfungsi untuk melindungi tangan dari sirip dan ekor ikan yang tajam, mengurangi gesekan ketika mengangkat keranjang ikan, melindungi dari suhu dingin extrime di dalam Cold Storage. Pada KM. Berkah Melimpah 2 membawa total dua pack hand safety, dalam satu pack terdapat 12 pasang sarung tangan. Berdasarkan jumlah telah memenuhi persyaratan tapi berdasarkan kualitas hands safety tidak memenuhi karena ketebalan hands safety tidak memenuhi standart untuk digunakan di dalam cold storage dengan temperature 15-20 oC 6. Ringbouy Ban pelampung adalah alat keselamatan di atas kapal yang digunakan untuk membantu orang jatuh ke laut bisa tetap terapung. Pada KM. Berkah Melimpah 2 terdapat ringbouy berjumlah 2 buah yang berada di bagian side port kapal dan star board pada sisi Obat P3K a, Hand Safety b dan Ringbouy c 7. Sepatu Boots Umumnya ruang internal kapal berisikan benda tajam serta mesin-mesin yang terbuat dari bahan logam keras. Dengan menggunakan sepatu safety, kaki pun akan terlindungi dan berjalan pun tidak akan Jurnal Bahari Papadak, Edisi Oktober 2022, Vollume 3 Nomor 2 E-ISSN 2723-6536 ©Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Idrus dkk., 2022 112-120 Article Info Received 23-08-2022 Accepted 16-09-2022 canggung. Sepatu ini berguna untuk melindungi kaki dari tertimpa ikan besar dan keranjang ikan serta bagian tubuh dari ikan yang tajam, selain itu juga melindungi kaki dari suhu dingin extrime ketika di dalam Cold Storage. Pada KM. Berkah Melimpah 2 terdapat sepatu boot berjumlah total 24 pasang yang peletakannya di area buritan kapal. Jumlah sepatu boot pada kapal KM. Berkah Melimpah 2 telah memenuhi kebutuhan dari 14 ABK, dengan menyediakan 24 sepatu boots. 8. Radio Komunikasi Alat ini di gunakan untuk berkomunikasi ketika situasi atau kondisi saat darurat, dan untuk mengkonfirmasi titik penjemputan ikan, serta laporan kedatangan kapal bila ingin sandar di pelabuhan. Kondisi radio komunikasi berfungsih dengan baik dan sangat penting perannya dalam komunikasi dengan kapal lainnya. 9. Automatic Identification System AIS AIS adalah sistem pemancaran radio Very High Frequency VHF yang menyampaikan data-data melalui VHF Data Link VDL untuk mengirim dan menerima informasi secara otomatis ke kapal lain, stasiun Vessel Traffic Services VTS atau Stasiun Radio Pantai SROP. Dengan menerapkan sistem AIS akan dapat membantu pengaturan lalu lintas kapal dan mengurangi bahaya dalam bernavigasi. AIS secara terus menerus akan mengirimkan data kapal seperti nama dan jenis kapal, tanda panggilan call sign, kebangsaan kapal, Maritime Mobile Services Identities MMSI, International Maritime Organization IMO Number, bobot kapal, data spesifikasi kapal, status navigasi, titik koordinat kapal, tujuan berlayar dengan perkiraan waktu tiba, kecepatan kapal dan haluan kapal. Gambar. Sepatu boots a, Radio Komunikasi b dan AIS c IV. KESIMPULAN Perlengkapan K3 pada KM. Berkah Melimpah 2 belum memadai dan kurang safety dalam melakukan aktifitas kegiatan di atas kapal. Adapun kegiatan ABK yang dimaksud adalah tidak menggunakan baju safety saat melakukan aktifitas bongkar muat ikan, tidak ada pembagian dinas jaga dek dan dinas jaga mesin kepada ABK dan kebiasaan dari ABK yang tidak mengindahkan kebersihan dan kesehatan saat melakukan kegiatan pelayaran di kapal serta kebiasaan ABK yang mengkonsumsi Alkohol pada saat kapal melakukan pelayaran. Berdasarkan Permenkp Nomor 42 Tahun 2016 Tentang Perjanjian Kerja Laut Bagi Awak kapal Perikanan AKP pada pasal 18, KM. Berkah Melimpah 2 tidak menyediakan helm, baju dingin, baju kerja dan jas hujan kepada ABK yang melakukan aktifitas di atas kapal pada saat kapal sedang berlayar. Adapun alat keselamatan yang disediakan oleh KM. Berkah Melimpah 2 adalah APAR 8 tabung, fire extinguisher ball 11 bola, lifejacket 24 buah, Obat P3K, hand safety 72 pasang, ringbuoy 2 buah, sepatu boots 24 pasang, radio komunikasi dan AIS. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini, Pimpinan Politeknik KP Kupang, Dosen Prodi. Mekanisasi Perikanan dan Taruna Prodi. Mekanisasi Perikanan yang telah banyak membantu dalam terselesainya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Imron, M., Nurkayah, R., dan Purwangka, F. 2017. Pengetahuan dan Keterampilan Nelayan Tentang Keselamatan Kerja di PPP Muncar, Banyuwangi. Vol. 1, No. 1 Jurnal Bahari Papadak, Edisi Oktober 2022, Vollume 3 Nomor 2 E-ISSN 2723-6536 ©Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Idrus dkk., 2022 112-120 Article Info Received 23-08-2022 Accepted 16-09-2022 Prasetyono, U., Sarianto, D., Nugraha, 2020. Analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Kapal Long Line KM. Anna Rizky 7 Yang Berbasis di Cilacap. Jurnal Bluefin Fisheries Vol. 2, No. 1 Suwardjo et al. 2010. Keselamatan Kapal Penangkap Ikan, Tinjauan dari Aspek Regulasi Nasional dan Internasional. Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 1, No. 1 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 58 Tahun 2021 Tantang Sertifikasi Maritime Labour Convention Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 42 Tahun 2016 Tentang Perjanjian Kerja Laut Bagi Awak kapal Perikanan AKP ResearchGate has not been able to resolve any citations for this SuwardjoJohn Haluan Indra JayaSoen'an H. PoernomoPekerjaan pada kapal penangkap ikan merupakan pekerjaan yang tergolong membahayakan dibanding pekerjaan lain, maka profesi pelaut kapal penangkap ikan memiliki karakteristik pekerjaan “3d” yaitu membahayakan dangerous, kotor dirty dan sulit difficult dengan ketiga sifat pekerjaan tersebut ditambah faktor ukuran kapal yang didominasi kapal-kapal berukuran relatif kecil, berlayar pada perairan gelombang tinggi dengan kondisi cuaca tidak menentu sehingga dapat meningkatkan tingkat kecelakaan kapal penangkap ikan. Keselamatan kapal penangkap ikan merupakan interaksi faktor-faktor yang kompleks, yakni human factor nakhoda dan anak buah kapal, machines kapal dan peralatan keselamatan dan enviromental cuaca dan skim pengelolaan sumberdaya perikanan. Permasalahan keselamatan atau kecelakaan akan timbul apabila salah satu elemen dari human factor, machines atau enviromental factor tersebut tidak berfungsi. Penelitian bertujuan mengidentifikasi peraturan keselamatan kapal penangkap ikan pada tingkat nasional dan internasional serta keterkaitan kebijakan keselamatan kapal penangkap ikan dan kapal niaga. Penelitian dilaksanakan Mei 2008 – Maret 2009. Data primer diperoleh dari berbagai sumber, seperti Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Pelabuhan Perikanan Pantai PPP Tegal Sari Kota Tegal, Pelabuhan Perikanan Nusantara PPN Pekalongan, Pelabuhan Perikanan Samudera PPS Cilacap dan Kementerian Perhubungan. Kebijakan keselamatan kapal penangkap ikan pada dasarnya mencakup kebijakan kelaikan kapal, dinas jaga kapal/pengawakan kapal, dan pencegahan polusi laut dari kegiatan kapal penangkap ikan, baik pada tataran nasional maupun internasional. Pengaturan kelaikan dan dinas jaga kapal/pengawakan kapal penangkap ikan merupakan pengawasan atau kontrol dari pemerintah terhadap pihak yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan untuk meningkatkan keselamatan jiwa, harta benda dan lingkungan laut. Mengingat karakteristik pekerjaan pada kapal penangkap ikan membahayakan awak kapal dan lingkungan sosial lebih kompleks, serta jumlah nelayan yang begitu banyak, maka di Indonesia, pengaturan tentang kelaiklautan kapal, dinas jaga kapal/pengawakan kapal, pendidikan, pelatihan dan sertifikasi awak kapal, kepelautan kapal perikanan dan pelabuhan perikanan sebaiknya diatur tersendiri, sebagaimana pengaturan pada tataran internasional telah diatur terpisah dari pengaturan kapal niagaUntung Prasetyono Deni SariantoDandi Rivaldi NugrahaKeselamatan dan kesehatan kerja K3 di kapal telah menjadi perhatian di antara pemerintah dan pebisnis sejak lama. Faktor K3 terkait erat dengan kinerja anak buah kapal ABK dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin banyak fasilitas ke sel amatan kerja, semakin sedikit kemungkinan kecelakaan kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis potensi resiko keselamatan kerja ABK dan aspek kelayakan, keselamatan dan kesehatan kerja diatas kapal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, jenis penelitian ini adalah studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan kuesioner. Data-data yang diperoleh di analisis menggunakan matriks IFAS,EFAS dan SWOT. Perhitungan total antara bobot dan nilai skoring pada tabel IFAS dan EFAS penerapan K3 KM Anna Rizky 7 menunjukkan nilai komponen internal sebesar 3,09, sedangkan nilai eksternal sebesar 2,89. Selisih nilai IFAS maupun EFAS bernilai positif, oleh karena itu penerapan K3 KM Anna Rizky 7 berada pada posisi kuadran 1. Hal tersebut berarti strategi yang digunakan adalah strategi progresif pertumbuhan yaitu strategi yang bertujuan untuk meningkatkan penerapan k3 demi mencapai pertumbuhan yang baik. Cara yang digunakan untuk melaksanakan strategi tersebut adalah melakukan pelatihan K3 untuk ABK, memberikan jaminan ketenagakerjaan ABK, melengkapi keselamatan atau memperbaharui alat keselamatan serta memperbaiki kondisi kapal dan melaksanakan prosedur kerja keselamatan dan kesehatan kerja di atas kapal .Kata kunci ABK, K3, SWOT. 74mDoS.
  • k6j8w19w5i.pages.dev/157
  • k6j8w19w5i.pages.dev/326
  • k6j8w19w5i.pages.dev/417
  • k6j8w19w5i.pages.dev/38
  • k6j8w19w5i.pages.dev/187
  • k6j8w19w5i.pages.dev/112
  • k6j8w19w5i.pages.dev/10
  • k6j8w19w5i.pages.dev/31
  • keselamatan kerja di kapal laut